Meirina Kurniawati. SH

17 Flips | 3 Magazines | @itsmemiqdadmomy | Keep up with Meirina Kurniawati. SH on Flipboard, a place to see the stories, photos, and updates that matter to you. Flipboard creates a personalized magazine full of everything, from world news to life’s great moments. Download Flipboard for free and search for “Meirina Kurniawati. SH”

Log In or Sign Up to View

This Facebook post is no longer available. It may have been removed or the privacy settings of the post may have changed.

Zat Kimia Kemasan Plastik Picu Kegemukan? Paparan zat-zat kimia dari lingkungan ternyata juga bisa menyebabkan kegemukan. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah zat kimia dalam plastik kemasan makanan. Penelitian menunjukkan, anak-anak yang sering terpapar bahan kimia untuk menghaluskan plastik, phthalate, cenderung mengalami obesitas dan menunjukkan tanda awal diabetes. Tingginya kadar phthalate dalam urine berhubungan dengan resistensi insulin pada remaja. Berdasarkan data dari survei yang sama, diketahui juga bisphenol A (BPA), digunakan untuk kaleng alumunium, berpengaruh pada risiko kegemukan pada remaja. "Pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik memang jadi penyebab obesitas. Namun unsur kimia yang mulai teridentifikasi juga berkontribusi," kata dokter anak dari New York University, Dr Leonardo Trasande. Tim riset Trasande menganalisis data dari survei kesehatan dan nutrisi nasional yang dilakukan pada 2003 hingga 2008. Tes ini menguji sampel urine dan darah 766 remaja berusia 12-19 tahun. Peneliti menemukan kadar salah satu jenis phthalate Di-2-ethylhexylphthalate (DEHP) yang tinggi berhubungan dengan resistansi insulin sebagai prekursor diabetes. Dalam riset ini, hanya 15 persen partisipan dengan kadar rendah DEHP yang terkena resistansi insulin. Sementara resistensi insulin terjadi pada 22 persen responden dengan tingkat DEHP tertinggi. DEHP, kata Trasande, sering digunakan untuk melembutkan botol plastik. Sebagai salah satu jenis phthalate, penggunaan DEHP ditandai dengan nomor di 3 kemasan daur ulang. Unsur kimia mungkin memengaruhi bagaimana tubuh menghasilkan insulin sebagai respons atas gula. Karena itu, Trasande menyarankan orangtua menghindari membeli kemasan plastik dengan DEHP. "Saya menyarankan untuk tidak mencuci wadah plastik dalam mesin pencuci piring. Plastik yang sudah rusak atau tergores, sebaiknya langsung dibuang," ujar Trasande. Penelitian senada dilakukan Dr Joyce Lee dari University of Michigan di Ann Arbor yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics. Riset ini menggunakan data survei 2010 yang membandingkan kadar BPA pada anak usia 6-18 tahun. Riset yang melibatkan 3.370 anak ini membuktikan kadar BPA tidak berhubungan dengan resistansi insulin atau kadar gula darah. Namun, anak dengan kadar BPA tinggi lebih cenderung menjadi obesitas dan memiliki lingkar pinggang yang besar. Sebanyak 25 persen anak dengan kadar BPA tinggi dua kali lebih mungkin menjadi obesitas. Normalnya, rata-rata anak memiliki 2,6 nanogram atau 2,6 gram bilionths BPA pada tiap mililiter urine.(kompas/24/8/13)

Yuk dapatkan kulit yang cantik dan awet muda dengan melakukan tidur malam yang baik. Selamat beristirahat sahabat Rumahku

Kalau nanti udah halal sama jodoh kita alias sudah menikah, tempat romantis yang pengen ukhti kunjungi apa? share yukk, mumpung malem minggu, eh sabtu malem~

..::..Excellent Idea to help our needy brothers & sisters..::.. "This picture is from my recent snapshots at the "Hand of Hope" initiative by our Alfaisal University Students, on the third day of Eid. Their project was to distribute gift bags (around 450) to members of the street cleaning workforce at their residence in "Suleh district" of Riyadh. Gift bags included a perfume, mobile recharge card, and some cash. May Allah reward the organizers for their outstanding effort!" --Azhar Faroqui

Kepada siapa cintamu akan kau berikan? <3

Drunkorexia, rela tak makan demi minum alkohol Seperti diketahui oleh banyak orang, alkohol mengandung kalori yang bisa ikut andil dalam menaikkan berat badan. Untuk mengakalinya, ada orang-orang yang rela tak makan hanya untuk minum alkohol lebih banyak. Dengan begitu, mereka bisa melewatkan kalori dalam makanan. Kebiasaan semacam ini disebut 'drunkorexia' dan tentu saja bukan kebiasaan yang bagus. Drunkorexia juga berubah menjadi tren diet aneh yang membuat orangnya melewatkan makanan sama sekali dan lebih memilih untuk minum alkohol hanya untuk menghindari asupan kalori yang terlalu banyak. Beberapa pelaku bahkan melihat drunkorexia sebagai cara untuk bisa bersenang-senang dan tetap menikmati alkohol sekaligus menjaga berat badan agar tetap langsing. Kebiasaan ini bisa menyebabkan seseorang terkena malnutrisi karena tak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuhnya Selain itu, mereka juga berisiko terkena kerusakan lever karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol tanpa makan sedikit pun. "Kami perhatian semakin banyak orang yang mengurangi makan demi mengurangi kalori dan kesempatan untuk minum alkohol lebih banyak. Kebiasaan berisiko semacam ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan penyakit lever di usia yang sangat muda," ungkap Mary George dari B-eat, seperti dilansir oleh Mirror. Kebiasaan ini bisa menjadi sebuah kelainan ketika pelakunya tak menyadari sama sekali bahwa hal yang dilakukannya adalah kesalahan dan bisa berbahaya. Selain itu, kebanyakan orang juga terobsesi terhadap alkohol sehingga mereka rela tak makan untuk menghemat kalori. Ahli kesehatan menjelaskan bahwa selain melewatkan makan bisa membuat tubuh kekurangan nutrisi, minum terlalu banyak alkohol juga bisa berbahaya bagi tubuh. Terlalu banyak minum alkohol bisa menyebabkan kerusakan lever serta keracunan. Jika kalian ingin berdiet, jangan sekali-kali tidak makan apapun sepanjang hari, apalagi menggantinya dengan alkohol. Tubuh membutuhkan asupan makanan dan nutrisi untuk tetap sehat. Jangan mengorbankan kesehatan diri hanya demi kesenangan minum alkohol dan berusaha tetap kurus.(merdeka/24/8/13)

Smile never hurts :)