Indawaty

40 Flips | 2 Magazines | 11 Followers | @indawaty | Keep up with Indawaty on Flipboard, a place to see the stories, photos, and updates that matter to you. Flipboard creates a personalized magazine full of everything, from world news to life’s great moments. Download Flipboard for free and search for “Indawaty”

Kisah Bahuputtika Theri (Dhammapada 8 : 115) VIII. Sahassa Vagga - Ribuan (115) Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat keluhuran Dhamma (Dhammamuttamam), sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat keluhuran Dhamma. ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Suatu saat di Savatthi, tinggallah pasangan suami istri yang memiliki tujuh anak laki-laki dan tujuh anak perempuan. Semua anaknya telah menikah dan keluarga itu hidup dengan tidak kekurangan. Kemudian sang ayah meninggal dunia dan sang ibu mendapatkan semua kekayaan tanpa membagi sedikitpun kepada anak-anaknya. Anak laki-laki dan anak perempuannya menginginkan memiliki warisan, sehingga mereka berkata kepada ibunya, "Manfaat apa yang kami dapatkan dari kekayaan kami? Tidakkah kita dapat membuatnya berlipat ganda? Tidak dapatkah kita mengurus ibu kita?" Mereka mengatakan hal itu berkali-kali kepada ibu mereka, dan si ibu berpikir bahwa anaknya akan mengurus kehidupan si ibu. Akhirnya ia membagi kekayaan tersebut tanpa menyisakan sedikit pun untuk dirinya. Setelah pembagian kekayaan, ia pertama kali tinggal bersama anak laki-laki tertua, tetapi menantunya menuntut dan berkata, "Ia telah datang dan tinggal bersama kita, seakan-akan dia telah memberi kita dua bagian dari kekayaan!" dan juga hal-hal lain. Lalu ia pergi menetap di anak laki-laki kedua. Hal yang sama juga terjadi. Jadi ia pergi dari satu anak laki-laki ke anak laki-laki lainnya, dari satu anak perempuan ke anak perempuan lainnya, tetapi satu pun tidak ada yang mau menerimanya untuk waktu yang lama dan tidak memberikan penghormatan kepadanya. Wanita tua tersebut merasa sakit hati terhadap perlakuan anak-anaknya. Ia meninggalkan keluarganya dan menjadi bhikkhuni. Karena ia dulu ibu dari banyak anak, maka ia dikenal dengan nama Bahuputtika. Bahuputtika menyadari bahwa ia menjadi bhikkhuni pada usia tua dan oleh karena itu ia seharusnya tidak menyia-nyiakan waktu. Ia hendak menggunakan sisa hidupnya dengan sepenuhnya, sehingga sepanjang malam ia meditasi sesuai dengan Dhamma yang telah diajarkan Sang Buddha. Sang Buddha melihatnya dari Vihara Jetavana. Melalui kemampuan batin luar biasa Beliau, dengan cahaya yang cemerlang, Beliau menampakkan diri dan duduk di depan wanita itu. Kemudian Sang Buddha berkata, "Kehidupan seseorang yang tidak pernah mempraktekkan Dhamma, ajaran Sang Buddha adalah tidak berguna, meskipun seseorang hidup seratus tahun." Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut: "Yo ca vassasataṃ jīve apassaṃ dhammam uttamaṃ ekāhaṃ jīvitaṃ seyyo passato dhammam uttamaṃ." Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak dapat melihat keluhuran Dhamma (Dhammamuttamam), sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat keluhuran Dhamma. Pada akhir khotbah, Bahuputtika mencapai tingkat kesucian Arahat.

Kisah Culekasataka (Dhammapada 9 : 116) IX. Papa Vagga - Kejahatan (116) Bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiran dari kejahatan; pikiran yang lamban melakukan kebajikan, akan menyenangi kejahatan. ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Di Savatthi berdiam sepasang suami istri brahmana. Mereka hanya mempunyai sebuah pakaian luar yang digunakan oleh mereka berdua. Karena itu mereka dikenal dengan nama Ekasataka. Karena mereka hanya mempunyai sebuah pakaian luar, mereka tidak dapat keluar berdua pada saat bersamaan. Jadi, si istri pergi mendengarkan khotbah Sang Buddha pada siang hari, dan si suami pergi pada malam hari. Pada suatu malam, ketika brahmana mendengarkan khotbah Sang Buddha, seluruh badannya diliputi keriangan yang sangat menyenangkan dan timbul keinginan yang kuat untuk memberikan pakaian luar yang dikenakannya kepada Sang Buddha. Tetapi dia menyadari jika dia memberikan pakaian luar yang satu-satunya dia miliki berarti tidak ada lagi pakaian luar yang tertinggal buat dia dan istrinya. Dia ragu-ragu dan bimbang. Malam jaga pertama dan malam jaga kedua pun berlalu, pada malam jaga ketiga, brahmana berkata pada dirinya sendiri, "Jika saya bimbang dan ragu-ragu, saya tidak akan dapat menghindar terlahir ke empat alam rendah (Apaya), saya akan memberikan pakaian luar saya kepada Sang Buddha." Setelah berkata begitu, dia meletakkan pakaian luarnya ke kaki Sang Buddha dan dia berteriak, "Saya menang! Saya menang! Saya menang!" Waktu itu Raja Pasenadi dari Kosala juga berada di antara para pendengar khotbah. mendengar teriakan tersebut ia menyuruh pengawalnya untuk menyelidiki. Mengetahui perihal pemberian brahmana kepada Sang Buddha, raja berkomentar bahwa brahmana tersebut telah berbuat sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan dan karenanya harus diberi penghargaan. Raja memerintahkan pengawalnya untuk memberikan sepotong pakaian kepada brahmana itu sebagai hadiah atas keyakinan dan kedermawanannya. Brahmana itu menerimanya lalu memberikan lagi pakaian tersebut kepada Sang Buddha. Dia mendapat hadiah lagi dari Raja berupa dua potong pakaian. Brahmana memberikan lagi kedua potong pakaian kepada Sang Buddha, dan dia memperoleh hadiah empat potong lagi. Jadi dia memberikan kepada sang Buddha apa saja yang diberikan raja kepadanya, dan tiap kali raja melipat-duakan hadiahnya. Akhirnya hadiah meningkat menjadi tiga puluh dua potong pakaian, brahmana itu mengambil satu potong untuknya dan satu potong untuk istrinya, dan selebihnya diberikan kepada Sang Buddha. Kemudian raja berkomentar lagi bahwa brahmana benar-benar melakukan suatu perbuatan yang sulit dan juga harus diberi hadiah yang pantas. Raja mengirim seorang utusan untuk membawa dua potong pakaian beludru yang berharga mahal, dan memberikannya kepada brahmana. Brahmana membuat kedua pakaian tersebut menjadi dua penutup tempat tidur dan meletakkan satu di kamar harum tempat Sang Buddha tidur, dan satunya lagi diletakkan di tempat para bhikkhu menerima dana makanan di rumah brahmana. Ketika raja pergi berkunjung ke Vihara Jetavana untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha, raja melihat tutup tempat tidur beludru dan mengenalinya bahwa barang itu adalah pemberiannya kepada brahmana, dia merasa sangat senang. Kali ini, raja memberikan hadiah tujuh macam yang masing-masing berjumlah empat buah (sabbacatukka) yaitu empat ekor gajah, empat ekor kuda, empat orang pelayan wanita, empat orang pelayan laki-laki, empat orang pesuruh laki-laki, empat desa, dan empat ribu uang tunai. Ketika para bhikkhu mendengar hal tersebut, mereka bertanya kepada sang Buddha, "Bagaimana hal ini bisa terjadi, dalam kasus brahmana ini, perbuatan baik yang dilakukan saat ini menghasilkan pahala yang sangat cepat?" Sang Buddha menjawab, "Jika Brahmana itu memberikan baju luarnya pada malam jaga pertama dia akan diberi hadiah enam belas buah untuk tiap macam barang, jika dia memberi pada malam jaga kedua dia akan diberi delapan buah untuk tiap macam barang. Ketika dia memberikan pada malam jaga terakhir dia diberi hadiah empat buah untuk tiap macam barang. Jadi, jika seseorang ingin berdana, lakukanlah secepatnya, jika seseorang menunda-nunda pahalanya datang perlahan dan hanya sebagian. Juga, jika seseorang terlalu lambat dalam melakukan perbuatan baik, mungkin dia tidak akan sanggup untuk melakukannya secara keseluruhan, karena pikiran cenderung senang dengan melakukan perbuatan yang tidak baik." Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut: "Abhittharetha kalyāṇe pāpā cittaṃ nivāraye, dandhaṃ hi karoto puññaṃ pāpasmiṃ ramatī mano." Bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiran dari kejahatan; pikiran yang lamban melakukan kebajikan, akan menyenangi kejahatan. ----------- Notes : Orang yang tidak punya (miskin), jika ia memberikan sebagian dari harta bendanya, bisa jadi sudah 50% atau bahkan 100% dari seluruh hartanya. Hal ini luar biasa, dan butuh pengorbanan yang tulus dan perjuangan berat untuk melepas keakuan dan keserakahannya (atas kepemilikan benda itu), seperti kisah diatas. Kebanyakan orang, makin ia merasa miskin, makin kuat kemelekatannya terhadap harta benda miliknya, karena ia selalu berpikir bahwa sangat sulit memperoleh harta benda tsb. Makin keras genggamannya, makin sulit melepas, makin terjerumus dalam kemiskinan. Sebagian orang berpikir, nanti, aku akan dana kalau uang sudah berlebih, sekarang saja masih kurang kok. Percayalah, konsep kurang atau lebih, ini semua ada dalam pikiran kita, dan bukan alasan yang tepat. Semakin besar penghasilan kita dan semakin umur bertambah; semakin besar pula pengeluaran kita, karena gaya hidup berubah, karena berkeluarga, karena keinginan kita jadi bertambah, karena tuntutan sosial dan lingkungan berubah, akibatnya, kita akan tetap terus merasa kurang uang. Dari sisi pandang lain, justru lebih mudah untuk memberi ketika kita miskin, karena tidak begitu beda jauh, keadaan sebelum dan sesudah memberi. Misalnya hanya punya uang 10 ribu rupiah, lalu didanakan semuanya 10 ribu rupiah, atau uangnya hilang. Tidak beda jauh, sebelumnya lapar, setelah dana juga tetap lapar. Tidak begitu ada perbedaan besar, tidak akan bisa bikin orang itu jadi gila. Bayangkan orang yang kaya raya misalnya uangnya 10 milyar, terbiasa dengan fasilitas dan hidup mewah, lalu didanakan 10 milyar, apakah ia sanggup melepas semuanya?? Atau misalkan bangkrut, wah, mungkin bisa gila :) Dari 10 Kesempurnaan (Dasa Paramita) yang harus kita tumbuhkan untuk menuju kebebasan, hal yang paling mendasar dan dijadikan urutan pertama adalah Dana (kemurahan hati). Diikuti oleh Sila, Melepaskan keduniawian (nekhamma), Kebijaksanaan (panna), Usaha (viriya), Kesabaran (khanti), Kejujuran (sacca), Tekad (adhitthana), Cinta Kasih (metta), dan Keseimbangan batin (upekkha). Sang Buddha berkata, jika orang-orang tahu, seperti apa yang Beliau tahu, apa akibat dari memberi dan berbagi, mereka tidak akan menikmati harta benda tanpa membaginya dengan orang lain.

Orang Yang Bermoral Dan Tidak Bermaral “Perumah tangga, ada lima kerugian bagi seseorang yang tidak bermoral mengalami kemunduran dalam kebaikannya. Apakah kelima hal itu? “Begini, O, perumah tangga, seseorang yang tidak bajik dan tidak bermoral melalui kebodohannya menderita kerugian kekayaan yang besar; ini merupakan kerugian pertama bagi seorang yang tidak bermoral mengalami kemunduran dalam kebaikannya. Selanjutnya, O, para perumah tangga, reputasi jelek akan tersebar sehubungan dengan orang yang tidak bajik dan tidak bermoral; ini merupakan kerugian ke dua …. Selain itu, O, perumah tangga, kelompok orang apapun yang didekati oleh orang yang tidak bajik dan tidak bermoral – entah kelompok bangsawan, brahmana, perumah tangga, atau pertapa – ia mendekati mereka tanpa dipercayai dan diyakini; ini merupakan kerugian ketiga ….. Selain itu, O, perumah tangga, seorang yang tidak bajik dan tidak bermoral meninggal dunia dalam keadaan bingung; ini merupakan kerugian keempat ….. Akhirnya, O, perumah tangga, ketika tubuhnya hancur, sesudah kematian, orang yang tidak bajik dan tidak bermoral akan lahir kembali dalam alam kesengsaraan, suatu keadaan yang tidak bahagia, tempat kejatuhan, neraka; ini adalah kerugian kelima ….. “Inilah, O, perumah tangga, kelima kerugian bagi orang yang tidak bermoral mengalami kemunduran dalam kebaikannya.” “O, perumah tangga, ada lima keuntungan bagi seorang yang bermoral mengalami kemajuan dalam kebaikannya. Apakah kelima hal itu?” “Begini, O, perumah tangga, seorang yang bajik dan bermoral melalui kerajinannya akan mendapatkan banyak kekayaan; ini merupakan keuntungan pertama bagi orang yang bermoral mengalami kemajuan dalam kebaikannya. Selanjutnya, O, perumah tangga, suatu reputasi baik tersebar sehubungan dengan orang yang bajik dan bermoral; ini merupakan keuntungan yang kedua ….. Selain itu, O, perumah tangga, kelompok orang manapun yang didekati orang yang bermoral dan bajik – entah kelompok bangsawan, brahmana, perumah tangga, pertapa – ia mendekati dengan mendapatkan kepercayaan diri dan keyakinan; ini merupakan keuntungan ketiga …. Selain itu, perumah tangga, seorang yang bajik dan bermoral meninggal dunia dalam keadaan tidak bingung; ini merupakan keuntungan keempat …. Akhirnya, O, perumah tangga, setelah hancurnya tubuh, sesudah kematian, seorang yang bajik dan bermoral akan lahir kembali di alam yang berbahagia, di alam surgawi; ini adalah keuntungan kelima…. “Inilah, O, perumah tangga, kelima keuntungan dari orang bermoral mengalami kemajuan dalam kebaikannya.” Kemudian Sang Bhagava, sesudah mengajar, membangkitkan, memberi inspirasi dan menggembirakan hati para pengikut awam Patali dengan percakapan mengenai Dhamma sampai larut malam itu, meminta mereka pulang dengan mengatakan: “Malam telah larut, O, perumah tangga. Lakukanlah sekarang apa yang kalian pikir sudah waktunya dilakukan.” Khotbah Buddha di Desa Patali.

* Praktik Sujud * Banyak manfaat yang dapat diambil dari praktik latihan ini. ~Pertama dan terpenting, bersujud mengatasi kesombongan. Karena kita memiliki dasar kebajikan, dan kita dapat merasa sombong dalam kepasrahan. Kita tidak usah tergantung pada keahlian atau keberuntungan. Kita dapat melakukannya dengan bersujud pada mereka yang bijaksana, mereka yang bekerja sangat keras sehingga Dhamma masih ada sampai sekarang. ~ kedua, sujud akan menghubungkan kita dengan kesadaran kita. Dengan kehadiran pribadi yang sangat terbuka dan welas asih, kita dapat merasakan bahwa sifat baik kita sendiri pun akan terbangkitkan. Sebagai bentuk penghormatan, kasih, dan syukur kepada mereka yang menunjukkan dasar kebajikan, kita membungkuk dan bersujud. ~ ketiga, bersujud dapat menjadi jalan untuk mengatasi perlawanan dan melepaskan kebiasaan buruk kita yang sudah mengakar. Setiap kali kita bersujud, kita mempersembahkan diri kita, kebingungan kita, ketidakmampuan kita untuk mencintai, kekerasan hati kita, dan cara-cara yang mementingkan diri sendiri. Bersujud dengan tiga tujuan seperti tersebut di atas, akan membuat diri kita siap untuk merasakan hati Bodhicitta.

* Penderitaan juga memiliki nilai * Melalui penderitaan, kesombongan dihilangkan Ada 3 keuntungan penderitaan : - Pertama, berharga karena melalui penderitaan, kesombongan dihilangkan. Tidak peduli betapa sombong dan rendah diri kita sebelumnya, penderitaan yang berat dapat membuat kita lebih rendah hati. Kepedihan karena sakit serius, kehilangan harta benda atau kehilangan orang yang kita cintai dapat mengubah kita, melembutkan kita dan membuat kita tidak terlalu mementingkan diri sendiri. - keuntungan kedua adalah empati. Welas asih untuk mereka yang mengembara dalam samsara. Penderitaan pribadi membawa perasaan welas asih untuk orang lain yang dalam situasi yang sama. Dikisahkan seorang perempuan muda pada saat bayinya meninggal dunia, ia merasakan hubungan yang erat sekali dengan semua orang tua yang juga mengalami hal yang serupa. Inilah yang disebut berkah tersembunyi dari penderitaan. Dengan kesedihan, kita menyadari bahwa kita semua berada dalam keadaan bahaya. Kita semua terperangkap dalam kilesa (kekotoran batin) dan terus menerus merintangi kebaikan dasar kita. - keuntungan ketiga dari penderitaan adalah kejahatan dihindari dan kebaikan tampak menggembirakan. Kita bisa menjadi lebih pandai tentang sebab akibat. Berdasarkan pengertian ini, maka kita tidak ingin melakukan kejahatan, dan lebih berkeinginan mengumpulkan kebajikan dan memberi manfaat bagi pihak lain. Inilah "keyakinan yang bersemangat" kita ingin hidup dengan cara yang menghilangkan kebiasaan yang menyebabkan kita menderita. Kita ingin meningkatkan welas asih, kebijaksanaan, dan kebahagiaan. Inilah keuntungan-keuntungan yang kita dapat dari penderitaan, membuat kita lebih rendah hati, membuat kita berwelas asih untuk orang lain yang berada dalam situasi yang sama, dan kita mulai mengerti cara kerja karma, yang memotivasi kita untuk tidak menambah penderitaan kita, dan kita dapat mengurangi beban kita.

Penampakan Agung Pertama: Orang Tua Hidup rumah tangga Pangeran Siddhattha dan Putri Yasodhara dimulai saat mereka berusia enam belas tahun. Raja Suddhodana sangat memperhatikan putranya agar Ia selalu berbahagia. Raja memerintahkan untuk membangun dinding tinggi di sekitar istana dan taman-taman untuk memastikan agar pangeran jangan sampai melihat keempat penampakan, namun hanya menikmati kehidupan nyaman dan mewah dalam istana. Bagaimanapun juga, tatkala Pangeran Siddhattha berusia dua puluh delapan tahun, segala kemewahan dan hiburan disekeliling-Nya tak lagi terasa menyenangkan. Ia menjadi jenuh, merasa bahwa kehidupan dalam istana-Nya yang megah lebih mirip seperti penjara. Ia ingin melihat dunia luar. Ia merasa penasaran untuk mengetahui kehidupan rakyat dan hal-hal di luar tembok istana. Karena itu, suatu hari Ia menghadap ayah-Nya dan memohon: "Ayahanda, selama ini saya selalu tinggal di dalam istana. Namun sebagai pangeran yang akan menjadi raja suatu hari nanti, seharusnya Saya juga mengetahui bagaimana rakyat kita hidup di luar istana. Ayahanda, saya mohon, izinkanlah Saya berjalan-jalan keluar!" "Baiklah, Putraku, Engkau boleh pergi ke luar istana dan menyaksikan bagaimana rakyat kita hidup di kota yang indah ini dan juga bagaimana mereka beristirahat di taman istana. Namun pertama-tama aku harus mempersiapkan segala sesuatunya agar Engkau dapat bepergian dengan nyaman dan layak," jawab raja. Kemudian, raja memerintahkan menterinya agar setiap rumah di kota tersebut dibersihkan dan dihiasi dengan bendera dan bunga. Tepat pada hari sang pangeran berkeliling kota, tak satu orang pun diizinkan terlihat bekerja; segenap warga diharuskan mengenakan pakaian bagus; penderita lepra, orang sakit, tua, buta, dan cacat harus tinggal di rumah. Setelah persiapan selesai, Pangeran Siddhattha keluar dengan ditemani Channa, kusir-Nya. Ia duduk di kereta kencana yang dihiasi dan dihela oleh kuda-kuda putih yang berdarah murni. Kereta itu keluar dari istana dan berkeliling kota. Orang-orang ramai berdiri di kedua sisi jalan dan menyambut-Nya dengan hangat. Banyak diantara mereka yang melambai-lambaikan tangan, sementara ada yang menaburkan bunga di jalanan. Demikianlah, perjalanan itu terasa semarak. Namun, tidak lama kemudian, tiba-tiba seorang lelaki tua muncul di tengah keramaian yang tengah bergembira menyambut pangeran mereka yang tampan itu. Si lelaki tua berlalu di sepanjang jalan itu tanpa sempat dicegah. Rambutnya sudah beruban dan ia mengenakan pakaian kotor compang-camping. Tak satu pun gigi masih tertinggal di dalam mulutnya yang sudah berkeriput. Matanya kuyu dan sayu, wajahnya penuh keriput. Ia tak lagi mampu berdiri tegap. Punggungnya begitu berpunuk. Tubuhnya yang kurus kering itu gemetaran, dan ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Ia menelusuri jalanan seraya mengemis makanan dari orang-orang di sekitarnya. Ia berusaha berkata-kata, namun suaranya sulit terdengar. Tak salah lagi, lelaki ini kelaparan dan akan mati hari itu juga jika tidak makan. Sang pangeran sangat terkejut dengan apa yang tampak oleh-Nya. Ia sungguh terkesima dan tidak mengetahui apa yang tengah dilihat-Nya karena itulah pertama kali dalam hidup Ia melihat orang seperti itu. Ia bertanya kepada kusirnya: "Channa, apakah itu? Pastilah ia bukan manusia. Jika ia manusia, mengapa punggungnya begitu bungkuk, tidak seperti orang lainnya? Mengapa tubuhnya gemetaran? Rambutnya kenapa abu-abu, tidak seperti orang lainnya? Mengapa matanya begitu sayu dan mukanya berkeriput? Mana giginya? Channa, katakanlah apa sebutan baginya?" "Pangeran, dia disebut orang tua," jawab Channa. "Orang tua?" gumam sang pangeran dan kembali bertanya: "Channa, Saya tidak pernah melihat makhluk seperti ini. Apa artinya'orang tua'? Apakah sebagian orang terlahir seperti ini?" Channa memberi tahu pangeran: "Orang yang tidak akan hidup lama lagi disebut orang tua. Dia tidak terlahir seperti ini. Seperti orang lainnya, dulunya dia juga kuat dan dapat berdiri tegap sewaktu muda. Rambutnya hitam, matanya jernih, dan giginya lengkap, namun selanjutnya dia menjadi tua seperti sekarang ini karena bertambahnya usia. Ia berubah bentuk seperti ini, dan ini tak bisa dicegah." Pangeran melanjutkan: "Maksudmu, kita semua, setelah hidup lama, akan berubah seperti dia?" Channa menjawab; "Sesungguhnya begitu, Pangeran! Kita semua, tanpa terkecuali, akan menjadi tua, dan tak seorang pun mampu mengatasi sifat penuaan ini. Janganlah bersedih karenanya, O Pangeran, ini hanyalah masalah orang tua itu!" Pangeran Siddhattha segera memerintahkan Channa untuk memacu pulang kereta-Nya ke istana karena Ia menjadi tidak bergairah lagi untuk berkeliling kota. Ia sangat sedih. Apa yang dilihat-Nya sangat mengguncang pikiran-Nya. Malam itu para pelayan mencoba menghibur-Nya dengan santapan lezat, musik, dan tari-tarian, namun Ia tidak tertarik maupun bahagia karena berpikir bahwa diri-Nya, istri-Nya, ayah-Nya, ibu angkat-Nya dan semua orang yang dicintai-Nya akan menjadi tua. Ia ingin tahu apakah ada yang bisa mencegah dan mengatasi usia lanjut ini. Mendengar apa yang terjadi pada putranya, raja menjadi khawatir dan sedih. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk menambah penjaga di sekitar tempat itu dan untuk menambah pelayan wanita dan gadis penari untuk menghibur pangeran sepanjang waktu.

Kisah Seyyasaka Thera (Dhammapada 9 : 117) IX. Papa Vagga - Kejahatan (117) Apabila seseorang berbuat jahat, hendaklah ia tidak mengulangi perbuatannya itu, dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu, sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat. --------------------------------------------------------------------------------------------------------- Ketika itu ada seorang Thera yang bernama Seyyasaka yang mempunyai kebiasaan masturbasi. Ketika mendengar hal tersebut, Sang Buddha menegurnya, karena melakukan sesuatu yang mengakibatkan seseorang jauh dari memperoleh magga dan phala. Pada saat itu juga, Sang Buddha menetapkan peraturan larangan menikmati kesenangan seksual bagi para bhikkhu, peraturan sanghadisesa. Pelanggaran (apatti) peraturan itu menyebabkan hukuman dan diskors oleh Sangha. Kemudian Sang Buddha menambahkan, "Jenis pelanggaran ini dapat mengakibatkan hasil perbuatan jahat di dunia ini maupun di masa mendatang." Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut: "Pāpañ ce puriso kayirā na taṃ kayirā punappunaṃ, na tamhi chandaṃ kayirātha dukkho pāpassa uccayo." Apabila seseorang berbuat jahat, hendaklah ia tidak mengulangi perbuatannya itu, dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu, sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat. ----------- Notes : Perlu dipahami bahwa peraturan Sanghadisesa ini diperuntukkan bagi anggota Sangha, bukan umat awam, jadi bagi umat awam, jangan kuatir dulu… hehehe.. . (Walaupun adalah hal yang baik jika ada umat awam yang hendak menjalankannya juga : ). Para bhikkhu, dengan keinginan sendiri tanpa paksaan hendak menjadi anggota sangha, yaitu untuk meninggalkan kehidupan duniawi, melatih diri untuk melenyapkan hawa nafsu, kebencian dan kebodohan batin (raga, dosa, moha) demi mencapai Nibbana. Jadi tentu saja peraturan tsb sangat wajar untuk berlatih melenyapkan hawa nafsu. Jika nafsu seks dituruti, tidak akan pernah terpuaskan. Seperti orang yang haus dan lapar, sekarang ia makan dan minum, selang beberapa waktu akan lapar dan haus lagi, begitu terus tak ada habisnya. Bedanya hanya, manusia membutuhkan makan dan minum supaya tetap hidup, kalau tidak makan dan minum manusia akan mati, tetapi, tidak pernah ada kejadian mati karena nafsu seks tidak terpuaskan. Berbeda dengan pelanggaran Parajika, pelanggaran Sanghadisesa ini masih dapat dimaafkan, yaitu dengan proses pengakuan kesalahan di sidang Sangha, lalu ia harus menjalani Parivasa (masa percobaan) yang lamanya tergantung dari seberapa lama ia menutupi kesalahan itu. Kemudian ia harus menjalani tambahan masa percobaan (Manatta) selama 6 hari. Kemudian barulah ia dapat kembali menjadi bhikkhu setelah menjalani Abbhana-kamma pada sidang Sangha yang dihadiri minimum 20 anggota Sangha. (apa ada yang mengaku ya ? hehehe..) Masturbasi termasuk Sanghadisesa, tetapi mimpi basah tidak termasuk. Mereka yang menjaga sila, melatih diri dengan baik dan rajin bermeditasi, akan lebih mudah mengatasi godaan nafsu seksual. Tingkat kesucian sotapatti masih belum mematahkan belenggu nafsu-nafsu indriya, dalam sakadagami, nafsu indria sudah melemah, dan dalam anagami & arahat, benar-benar sudah padam. Maka tidak heran kan, masturbasi dilarang untuk anggota Sangha? Jika diumbar terus, kapan padamnya?? Dan jangan berpikir kalau hidup tanpa seks itu menyedihkan dan membosankan, para Arahat justru adalah orang yang paling berbahagia. Kebahagian mereka jauh diatas kesenangan seksual yang hanya sementara.

Dimanakah Sang Buddha ? Mengenang Venerable Dr. K. Sri Dhammananda Nàyaka Maha Thera 18 Maret 1919 – 31 Agustus 2006. Ini adalah artikel terakhir yang disampaikan Venerable Dr. K. Sri Dhammananda Nàyaka Maha Thera Orang-orang sering menanyakan pertanyaan ini, ke manakah Sang Buddha pergi atau di manakah beliau sekarang tinggal? Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dijawab bagi mereka yang belum mengembangkan jalan hidup spiritual. Ini disebabkan setiap orang memikirkan mengenai hidup dengan cara pandang duniawi. Suatu hal yang sulit bagi orang-orang untuk memahami konsep tentang Buddha. Beberapa misionaris agama tertentu mendatangi umat Buddha dan berkata bahwa Sang Buddha bukanlah Tuhan, beliau adalah manusia.Beliau telah mati dan menghilang. Bagaimana seseorang mendapatkan manfaat dari menyembah orang yang sudah mati? Tetapi kita perlu memahami bahwa Sang Buddha disebut sebagai Satthà deva-manussànaü, guru para dewa dan manusia.Kapan saja para dewa memiliki masalah, mereka mendatangi Sang Buddha untuk mendapatkan nasihatnya. Kemudian para misionaris tersebut mengklaim Tuhan mereka adalah Tuhan yang hidup dan itulah kenapa setiap orang harus menyembahnya. Menurut ilmu pengetahuan, memerlukan jutaan tahun bagi kita untuk mengembangkan pikiran dan pemahaman kita. Ketika pikiran manusia belum sepenuhnya berkembang, mereka menyadari akan adanya kekuatan-kekuatan yang membuat alam bekerja. Karena mereka tidak dapat memahami bagaimana persisnya alam itu bekerja, mereka mulai berpikir pastilah ada seseorang yang menciptakan dan memelihara peristiwa ini. Untuk membantu yang lain memahami konsep ini, mereka mengubah energi ini menjadi suatu bentuk dan mewakilinya secara fisik sebagai patung-patung dan lukisan-lukisan. “Roh-roh” atau kekuatan-kekuatan ini begitu penting untuk membuat manusia melakukan sesuatu yang baik dan tidak melakukan sesuatu yang buruk dan untuk memberi mereka pahala jika mereka melakukan hal yang baik. Kita selalu memiliki rasa takut,khawatir, curiga, ketidak-amanan, sehingga kita membutuhkan seseorang untuk bergantung padanya, untuk melindungi kita. Seringkali kekuatan ini dirubah menjadi tuhan yang tunggal.Sekarang sebagian orang bergantung pada tuhan untuk segalanya. Demikianlah mengapa mereka mencoba memperkenalkan ide mengenai roh yang kekal yang pergi dari sini dan tinggal di surga yang abadi. Hal itu memuaskan kehausan akan kehidupan kekal. Sang Buddha mengatakan bahwa segala sesuatu yang muncul dalam suatu keberadaan adalah subjek dari perubahan, kehancuran dan kelapukan. Ketika kita menganalisa kehidupan Sang Buddha, kita melihat Ia tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai anak tuhan atau pembawa pesan (nabi) tetapi sebagai guru agama yang tercerahkan. Pada saat yang sama Sang Buddha juga tidak memperkenalkan dirinya sebagai inkarnasi dari Buddha lain. Sang Buddha tidak diciptakan oleh Buddha yang lain, jadi Buddha bukanlah reinkarnasi dari Buddha yang lain. Beliau adalah seorang individu yang dengan bekerja dalam periode waktu yang lama, mengembangkan kehidupan setelah kehidupan dan menanam semua kualitas, kebajikan, kebijaksanaan agung yang kita sebut sebagai pàramità atau kesempurnaan. Ketika Beliau menyempurnakan semua kualitas yang baik beliau mencapai pencerahan yang merupakan pemahaman sempurna akan bagaimana alam semesta bekerja. Ia menemukan bahwa tidak ada tuhan yang menciptakan alam semesta. Orang-orang bertanya bagaimana Sang Buddha dapat mencapai pencerahan tanpa dukungan dari tuhan manapun.Umat Buddha mempertahankan bahwa setiap individu dapat mengembangkan pikiran untuk memahami segalanya. Arti kata “manussa”, dalam berbagai bahasa berarti makhluk manusia.Tetapi arti dari kata “mana” adalah pikiran. Oleh karena itu “manussa” adalah manusia yang dapat membangun dan mengembangkan pikiran menuju ke kesempurnaan. Selain manusia tidak ada makhluk-makhluk hidup lain di alam semesta ini yang dapat mengembangkan pikirannya sampai sedemikian luas, untuk mencapai pencerahan. Bahkan tidak ada makhluk-makhluk adikuasa yang bisa menjadi Buddha karena mereka tidak bisa mengembangkan pikirannya sedemikian luas. Mereka memiliki sensualitas duniawi, kedamaian, kehidupan yang sejahtera, tetapi kekuatan pikiran mereka sangat lemah. Hanya manussa atau manusia yang bisa menjadi Buddha atau “Yang Tercerahkan”. Ketika orang-orang mengatakan bahwa Buddha bukanlah tuhan, kita tidak seharusnya mencoba membuktikan bahwa beliau adalah tuhan. Jika kita mencoba membuktikan hal ini maka sebenarnya kita merendahkan konsep pencerahan. Beberapa orang mengklaim bahwa tuhan mereka telah memberikan pesan kepada umat manusia. Jika pesan itu adalah untuk semua umat manusia di dunia ini, mengapa tuhan tidak menyatakan pesannya kepada orang banyak, tetapi justru menyatakannya kepada satu orang. Sang Buddha tidak mendorong siapapun untuk percaya apapun atau mengklaim bahwa beliau di perintahkan oleh kekuatan tertinggi untuk melakukan sesuatu. Ada tiga cara untuk berlatih. Pertama kita harus mencoba untuk memahami karena kita tidak seharusnya mempercayai secara membuta apapun yang tidak dapat kita pahami. Sang Buddha mengatakan bahwa pertama anda harus mencoba untuk memahami. Dalam ajarannya mengenai “Jalan Mulia Berunsur Delapan”, hal yang pertama adalah sammàditthi, pengertian (pemahaman) benar. Sang Buddha memulai misinya dengan meminta kepada pengikutnya untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman benar bukannya iman atau kepercayaan yang membuta. Setelah belajar kita mendapatkan pengetahuan yang luar biasa mengenai Sang Buddha dan ajaran-ajarannya. Anda harus melatih apa yang telah anda pelajari. Jika anda belum memahaminya anda akan mencoba menciptakan ide-ide berdasarkan imajinasi anda sendiri. Nasihat beliau adalah melatih apa yang telah anda pelajari dengan pemahaman.Setelah berlatih anda akan mengalami hasil atau efeknya. Inilah tiga metode yang Sang Buddha ajarkan, yaitu belajar,memahami, dan berlatih. Inilah jalan untuk hidup di dunia ini untuk terlepas dari penderitaan. Sekarang anda dapat memahami bahwa jalan Sang Buddha dalam memperkenalkan agama dengan tidak meminta kita untuk percaya apapun tetapi untuk belajar, berlatih, dan mengalami hasilnya. Sebagai contoh, Sang Buddha mengatakan bahwa anda harus berbaik hati, anda harus jujur. Setelah memahami ajaran ini, anda mencoba untuk melatihnya dan setelah itu setiap orang menghormati anda ketika mereka mengetahui bahwa anda sangat baik hati, sangat jujur. Tak seorang pun ingin mengganggu anda atau menyalahkan anda, tetapi mereka menghormati anda. Sang Buddha menasihati kita untuk berpikir dan memahami. Kita memiliki pikiran yang beralasan. Kita memiliki akal sehat tidak seperti makhluk hidup lainnya yang juga memiliki pikiran tetapi tidak dapat berpikir secara rasional. Pikiran mereka terbatas untuk mencari makanan, tempat bernaung,perlindungan dan kenikmatan sensual. Mereka tidak meningkatkan pikiran mereka lebih luas. Tetapi manusia memiliki pikiran untuk berpikir dan memahami sampai tahap maksimal. Inilah kenapa para ilmuwan telah menyelidiki dan menemukan berbagai hal yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Tidak ada makhluk hidup lain di dunia ini yang dapat mengembangkan pikirannya sampai seluas itu. Karena itulah hanya manusia saja yang dapat menjadi Buddha. Hanya dengan mengembangkan pikiran mereka, manusia dapat mencapai pencerahan. Tetapi kita ingin berada dalam semua kejengkelan atas penderitaan dan masalah, kesedihan, kesakitan dan bermacam masalah lainnya karena kehausan dan kebodohan kita. Sekarang lihatlah apa yang terjadi di dunia ini. Seluruh dunia adalah medan pertempuran, orang-orang di seluruh dunia menciptakan kekerasan dan pertumpahan darah dan perang dan kehancuran. Hewan-hewan tidak hidup dengan menciptakan banyak masalah yang tidak perlu untuk menderita. Ketika mereka lapar mereka pergi keluar dan menangkap makhluk hidup lain, menghilangkan rasa lapar mereka dan pergi tidur. Tetapi manusia tidak dapat merasa puas tanpa haus terhadap begitu banyak hal lainnya.Kehausan, kemelekatan sangat kuat dalam pikiran manusia kita. Oleh karena kecemburuan, permusuhan, kemarahan, kehendak buruk itu, kekejaman dan kejahatan muncul. Makhluk hidup lain tidak mengembangkan kekejaman mereka sampai sedemikian besar.Manusia memiliki agama. Agama bukan sekedar menyembah dan berdoa tetapi melakukan suatu pelayanan kepada makhluk hidup lain dengan menjauhkan diri dari pikiran buruk sehingga kita dapat melayani makhluk lain. Aspek pemujaan dalam agama adalah penting tetapi dengan hal itu saja tidak akan bisa mengembangkan pikiran untuk mencapai pemahaman yang semestinya atau kebijaksanaan. Sebelum kemangkatan Sang Buddha banyak orang menyerahkan bunga-bunga dan menghormati beliau. Sang Buddha meminta mereka untuk pulang ke rumah. Beliau mengatakan bahwa jika mereka benar-benar ingin menghormatinya, selain dengan bunga-bunga dan penyembahan, mereka harus melatih setidaknya satu dari nasihat-nasihat yang pernah beliau berikan.Dengan demikian mereka benar-benar menghormati Sang Buddha. Sekarang anda dapat memahami apa yang Sang Buddha inginkan. Jalan hidup keagamaan bukan hanya untuk berdoa tetapi meneladani beberapa nasihat yang diberikan olehNya. Di sini anda dapat memahami bahwa Sang Buddha bukanlah seputar masalah tubuh fisik. Ketika anda belajar sejarah India, dalam hampir 500 tahun (setelah Sang Buddha parinibbàna) tidak ada satu pun råpaü (patung, gambar) Sang Buddha karena Sang Buddha tidak menganjurkan setiap orang untuk mendirikan råpaü dirinya. Adalah bangsa Yunani yang menciptakan råpaü Sang Buddha dan bentuk-bentuk simbol keagamaan lainnya. Ini adalah contoh yang baik bagi orang-orang untuk menjelaskan kepada yang lain arti dari menghormati rupang (patung/gambar) Sang Buddha. Ketika anda menyimpan rupang Sang Buddha dan menghormatinya, anda juga dapat menggunakannya sebagai objek untuk meditasi. Hal ini bukanlah bentuk penyembahan berhala. Anda mengundang Sang Buddha ke dalam pikiran anda melalui simbol ini. Ini adalah symbol keagamaan. Bagaimana rupang Sang Buddha berdaya tarik bagi pikiran manusia dapat dipahami melalui peristiwa berikut. Sang Buddha pernah menyatakan, “Apakah Sang Buddha muncul atau tidak, Dhamma tetap ada selamanya di dunia ini.” Ketika seorang Buddha muncul, Ia menyadari bahwa orang-orang telah melupakan Dhamma yang sejati. “Dhamma yang saya pahami ini bukanlah Dhamma yang diciptakan olehku”,kata Sang Buddha. Dhamma ini selalu ada tetapi orang-orang telah salah menafsirkannya, menciptakan konsep yang salah menurut imajinasi diri mereka sendiri dan secara keseluruhan mencemarkan kemurnian Dhamma. Bahkan hal ini terjadi sekarang, setelah 2500 tahun Sang Buddha mengungkapkan kebenaran sebagai Dhamma. Orang-orang melakukan kesalahan-kesalahan selama berabad-abad lamanya atas nama Sang Buddha. Hal ini bukan berarti mereka benar-benar mengikuti nasihat yang diberi oleh Sang Buddha. Tetapi mereka memperkenalkan praktik kebudayaan tradisional mereka yang dicampur dengan Buddhisme dan memperkenalkannya sebagai Buddhisme. Sebagai umat Buddha, kita harus berusaha untuk mempelajari apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dan berusaha untuk melatih apa yang Sang Buddha ajarkan untuk mencari keselamatan kita. Dengan cara yang sama janganlah bertanya di manakah Sang Buddha, atau ke manakah beliau telah pergi. Jika Dhamma, apa yang beliau ajarkan adalah benar, tersedia, dan efektif mengapa perlu untuk mengetahui di mana Sang Buddha. Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa beliau dapat memasukan kita ke dalam surga atau neraka. Sang Buddha dapat memberitahu anda apa yang tidak dilakukan dan apa yang dilakukan untuk mencapai keselamatan kita, itulah satu-satunya yang dapat Sang Buddha lakukan. Beliau tidak dapat melakukan apapun untuk anda. Tugas anda adalah berlatih apa yang telah Sang Buddha ajarkan kepada kita. Orang lain mengatakan bahwa tuhan mereka bisa menghapus kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh manusia. Sang Buddha tidak pernah mengatakan bahwa kesalahan yang diciptakan oleh seseorang dapat dihapus oleh orang lain. Buddha, dewa/tuhan juga tidak dapat melakukannya. Kemudian ia mencapai tingkat kesucian arahat dan menggapai Nibbana. Kamma buruk tidak memiliki kesempatan untuk datang kepadanya1. Ia mengembangkan kamma baik dan kamma buruk tidak memiliki kesempatan untuk berbuah padanya. Itulah yang Sang Buddha telah katakan. Sang Buddha mengajarkan metode ini untuk mengatasi efek atau dampak dari kamma buruk bukan dengan berdoa kepada tuhan manapun tetapi dengan melakukan lebih dan lebih banyak perbuatan bajik. Jika saya mengatakan Sang Buddha tinggal di salah satu bagian dari alam semesta dalam wujud fisik hal ini bertolak belakang dengan ajaran Sang Buddha. Di lain hal jika saya mengatakan bahwa Sang Buddha tidak tinggal di salah satu bagian alam semesta dalam wujud fisik banyak orang sangat tidak senang karena mereka haus akan perwujudan/keberadaan yang tidak dapat dipuaskan. Selain itu mereka mengatakan hal ini merupakan ketidakadaan. Hal ini bukanlah ketidakadaan;ini adalah akhir dari penderitaan fisik dan batin dan pengalaman Nibbana atau pembebasan. Di lain pihak ada beberapa orang yang sangat membutuhkan wujud fisik dari rupang Sang Buddha untuk menenangkan pikiran mereka, mengurangi ketegangan,ketakutan dan kekhawatiran. Meskipun demikian tidaklah benar bagi kita untuk mengatakan bahwa Sang Buddha hidup atau tidak. Lebih dari cukup bagi kita jika doktrin atau ajaran Sang Buddha bermanfaat bagi kita untuk mengalami kedamaian, kepuasan dalam kehidupan. Sebagai contoh seorang dokter yang menemukan obat yang sangat efektif. Jika obat itu bermanfaat, dapat menyembuhkan penyakit, tidaklah perlu bagi kita untuk mengetahui di mana dokter ini dan apakah ia masih hidup atau tidak? Hal yang penting adalah menyembuhkan penyakit kita dengan meminum obat tersebut. Demikian pula halnya ajaran Sang Buddha lebih dari cukup bagi kita untuk menyingkirkan segala penderitaan kita. Banyak orang bertanya ke mana Sang Buddha pergi? Jika seseorang mengatakan bahwa Sang Buddha pergi ke Nibbana maka mereka berpikir bahwa Nibbana itu adalah suatu tempat.Nibbana bukanlah suatu tempat, Nibbana merupakan kondisi batin bagi kita yang mencapai pengalaman akan pembebasan akhir. Kita tidak bisa mengatakan bahwa Sang Buddha telah pergi ke suatu tempat atau Sang Buddha tetap ada tetapi ia mengalami Nibbana atau tujuan akhir dalam hidup. Jadi jawaban terbaik untuk pertanyaan “Di Manakah Sang Buddha?” adalah Sang Buddha berada dalam pikiran anda yang telah merealisasikan Kebenaran Tertinggi.

Kisah Lajadevadhita (Dhammapada 9 : 118) IX. Papa Vagga - Kejahatan (118) Apabila seseorang berbuat bajik, hendaklah dia mengulangi perbuatannya itu dan bersuka cita dengan perbuatannya itu, sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik. --------------------------------------------------------------------------------------------------------- Suatu ketika Mahakassapa Thera sedang berdiam di gua Pippali dan berada dalam suasana batin khusuk bermeditasi mencapai konsentrasi tercerap (samapatti) selama tujuh hari. Segera setelah beliau bangun dari samapatti, beliau berkeinginan memberi kesempatan pada seseorang untuk mendanakan sesuatu kepada orang yang baru bangkit dari samapatti. Beliau melihat keluar dan menemukan seorang pelayan muda sedang menabur jagung di halaman rumah. Maka Thera berdiri di depan pintu rumahnya untuk menerima dana makanan. Wanita itu meletakkan seluruh jagungnya ke mangkuk Thera. Ketika wanita itu pulang setelah mendanakan jagung kepada thera, dia dipatuk oleh seekor ular berbisa dan meninggal dunia. Dia terlahir kembali di alam surga Tavatimsa dan dikenal sebagai Lajadevadhita. "Laja" berarti jagung. Laja menyadari bahwa dia terlahir kembali di alam surga Tavatimsa karena dia telah berdana jagung kepada Mahakassapa Thera, maka ia sangat menghormati Mahakassapa Thera. Kemudian Laja memutuskan, dia harus melakukan jasa baik kepada Thera agar kebahagiaannya dapat bertahan. Jadi setiap pagi wanita itu pergi ke vihara tempat Thera berdiam, menyapu halaman vihara, mengisi tempat air, dan melakukan jasa-jasa lainnya. Pada mulanya thera berpikir samanera-samanera yang melakukan pekerjaan tersebut. Tetapi pada suatu hari thera mengetahui yang melakukan pekerjaan tersebut adalah seorang dewi. Kemudian thera memberi tahu dewi tersebut untuk tidak datang ke vihara itu lagi. Orang-orang akan membicarakan hal-hal yang tidak baik jika dia tetap datang ke vihara. Mendengar hal itu, Lajadevadhita sangat sedih, menangis dan memohon kepada Thera, "Tolong jangan hancurkan kekayaan dan harta benda saya." Sang Buddha mendengar tangisannya dan kemudian mengirim cahaya dari kamar harum Beliau dan berkata kepada dewi tersebut, "Devadhita, itu adalah tugas murid-Ku Kassapa untuk melarangmu ke vihara, melakukan perbuatan baik adalah tugas seseorang yang berniat besar memperoleh buah perbuatan baik. Tetapi, sebagai seorang gadis, tidak patut untuk datang sendirian dan melakukan berbagai pekerjaan di vihara." Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut: "Puññañ ce puriso kayirā Kayirāth’ enaṃ punappunaṃ tamhi chandaṃ kayirātha sukho puññassa uccayo." Apabila seseorang berbuat bajik, hendaklah dia mengulangi perbuatannya itu dan bersuka cita dengan perbuatannya itu, sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik. Lajadevadhita mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. ---------- Notes : Ada dua konteks disini. Konteks pertama adalah mengenai ketidakpantasan seorang gadis (dewi) yang setiap pagi-pagi buta datang sendirian ke tempat Mahakassapa Thera. Hal ini kemungkinan besar akan mendatangkan kritik dan pergunjingan orang-orang. Sang Buddha membenarkan tindakan Mahakassapa yang melarang Laja datang sendirian, karena dapat menyebabkan pembicaraan yg tidak baik. Konteks yang kedua, Sang Buddha menyetujui bahwa perbuatan yang baik hendaknya diulang kembali. Dalam hal ini Laja seharusnya dapat memikirkan cara lain untuk berbuat kebajikan tanpa mengkompromikan norma-norma sosial yang berlaku saat itu. Mengenai Mahakasssapa sendiri, Beliau memprioritaskan memberi kesempatan berdana kepada orang miskin, ketimbang para dewa. Contohnya dalam kisah ke 56, juga Udana 3:7, beliau menolak 500 dewata yang hendak memberinya dana makanan, tetapi Sakka, raja para dewa, menyamar menjadi penenun tua dan miskin, sehingga berhasil memberinya dana. Selain itu juga, karena Mahakassapa memilih menjalankan jenis pertapaan keras, tentu ia menghindari menerima dana dari para dewa karena apa yang diberikan oleh para dewa ini kualitasnya sangat bagus dan halus.

Para bhikkhu, dahulu kala ada seorang ibu bernama Vedehika di Savatthi. Popularitas baik Ibu Vedehika telah tersebar sebagai berikut: ‘Ibu Vedehika baik hati, lembut dan penuh kasih sayang.’ Ibu Vedehika mempunyai seorang pembantu bernama Kali, yang pintar, cekatan dan bekerja dengan rapi. Kali berpikir: ‘Popularitas nyonyaku telah tersebar: ‘Ibu Vedehika baik hati, lembut dan penuh kasih sayang.’ Apakah ketika ia tidak marah berarti sungguh-sungguh kemarahannya ada padanya atau tidak ada padanya. Atau mungkin karena pekerjaan saya rapi sehingga nyonya tidak marah padahal kemarahan itu ada padanya? Bagaimana kalau saya mengeceknya?’ Demikianlah, Kali bangun terlambat. Ibu Vedehika berkata: ‘Hai Kali! Apa sebab kamu bangun terlambat?’ ‘Tidak apa-apa, nyonya.’ ‘Tidak apa-apa. Kau gadis jahat, kamu bangun terlambat!’ ia marah, tidak senang dan cemberut. Kemudian Kali berpikir: ‘Ternyata bila nyonya tidak marah, kemarahan itu ada padanya, bukan tidak ada; hanya karena pekerjaaanku yang rapi maka nyonya tidak marah walaupun kemarahan itu ada padanya, bukan tidak ada padanya. Bagaimana kalau saya mengecek nyonya sekali lagi?’ Demikianlah, Kali bangun lebih terlambat lagi. Ibu Vedehika berkata: ‘Hai Kali! Apa sebab kamu bangun kesiangan?’ ‘Tidak apa-apa, nyonya.’ ‘Tidak apa-apa, kau gadis jahat, kamu bangun kesiangan!’ ia marah, tidak senang dan mengucapkan kata-kata tidak menyenangkan. Kali berpikir pula: ‘Ternyata bila nyonya tidak marah, kemarahan itu ada padanya … saya mengecek nyonya sekali lagi.’ Demikianlah, Kali bangun kesiangan lagi. Ibu Vedehika berkata: ‘Hai Kali! Apa sebab kamu bangun kesiangan?’ ‘Tidak apa-apa, nyonya.’ ‘Tidak apa-apa, kau gadis jahat, kamu bangun kesiangan!’ ia marah, tidak senang dan mengambil ‘gulungan penjepit’, memukulkannya ke kepala Kali yang mengakibatkan kepala Kali terluka dan berdarah. Kemudian, Kali dengan kepala berdarah memberitahukan kepada para tetangga: ‘Ibu-ibu lihat, perbuatan nyonya yang baik hati, lembut dan penuh kasih sayang. Lihatlah, karena pembantunya bangun kesiangan, ia marah, tidak senang dan memukulnya dengan ‘gulungan penjepit’ sehingga kepala pembantunya terluka dan berdarah.’ Akibatnya nama buruk dari Ibu Vedehika tersebar: ‘Ibu Vedehika kasar, kejam dan tak memiliki kasih sayang.’ Demikianlah beberapa bhikkhu agak baik hati, lembut dan diliputi cinta kasih selama tidak ada kata-kata yang tidak menyenangkan yang didengarnya. Tetapi segera setelah ia mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan tentang dirinya seorang bhikkhu harus bersikap baik hati, lembut dan penuh cinta kasih. Saya tidak mengatakan seorang bhikkhu itu mudah dikoreksi, karena bhikkhu hanya mudah dikoreksi bila berkenaan dengan jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan untuk menyembuhkan sakit, yang didapatnya. Mengapa demikian? Sebab bhikkhu adalah sulit dikoreksi bila ia tidak mendapat jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Tetapi seorang bhikkhu mudah dikoreksi bila ia menghormat, memuja dan sujud pada Dhamma. Itulah sebabnya, para bhikkhu harus melatih diri: ‘Kami akan mudah dikoreksi karena menghormat, memuja dan sujud pada, Dhamma.’ Para bhikkhu, ada lima macam ucapan yang mungkin ditujukan orang lain kepadamu; mereka berbicara : 1. pada waktu tepat atau pada waktu tidak tepat. 2. benar atau tidak benar. 3. lembut atau kasar. 4. berhubungan dengan kebaikan atau mencelakakan. 5. disertai dengan pikiran cinta kasih atau benci. Bila ada orang berbicara dengan lima macam ucapan itu, para bhikhu harus melatih diri mereka: ‘Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami tidak akan mengucapkan kata-kata buruk dan kami akan tetap penuh kasih sayang demi kesejahteraan (banyak orang) dengan pikiran diliputi cinta kasih tak ada kebencian. Kami akan memancarkan pikiran cinta kasih kepada orang itu; kami akan meliputi diri dengan cinta kasih yang banyak, penuh dan tak terbatas tanpa kejahatan atau iri hati untuk semua makhluk di alam semesta ini, sebagai obyeknya.’ Demikian pula, bila ada penjahat yang dengan buas memotong tangan dan kaki dengan gergaji, ia yang membangkitkan kebencian karena hal itu tidak akan dapat melaksanakan ajaranku. Inilah caranya kamu sekalian harus melatih diri: ‘Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami … untuk semua makhluk di alam semesta ini sebagai obyeknya.’ Para bhikkhu, ingatlah selalu uraian ini sebagai Perumpamaan Gergaji. ~KAKACUPAMA SUTTA~

Pada masa kini, mereka yang ingin hidup dengan bajik dan murni harus meneladani sikap dan perilaku Ratu Samavati. Dalam menghadapi kritik, celaan, caci maki, iri, dengki, dan niat buruk, kita harus memperbaiki pikiran dan memadamkan keinginan untuk balas dendam. Berilah kesempatan untuk melayani orang lain, sekalipun kepada mereka yang jahat kepada Kita. Angkatlah senjata yang tak ternilai yang dikenal sebagai metta. (Metta) cintah-kasih itu seperti air ; kebencian (dosa) itu seperti api. Semakin banyak air, semakin mudah kita memadamkan api. Oleh karenanya, kita harus mencoba mengurangi kemarahan serta mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk. Hidup berwelas asih yang akan membawa kita kembali pada kebajikan dalam kelembutan. Kebajikan praktis adalah kemauan secara moral untuk melakukan hal yang benar serta keterampilan moral untuk mencari tahu apakah kebenaran itu?. Ketika kita mulai berlatih bersukacita atas kebahagiaan orang lain, kita berharap bertemu dengan titik kelembutan, begitu juga dengan perasaan bersaing dan iri hati. Saat kita merasa senang untuk orang-orang asing akan relatif mudah, tetapi kalau kebahagiaan datang pada orang yang kita kenal. Khususnya mereka yang kita benci, maka kita mungkin akan lebih mudah merasa iri hati. Kita sebelumnya tidak sadar berapa banyak iri hati yang kita miliki. Demikian juga ketika kita mulai berlatih sikap murah hati, kita melihat kemelekatan kita dengan jelas dibandingkan dengan sebelumnya. Pada saat berlatih untuk menjadi sabar, kemarahan kita semakin sulit untuk dihindari. Untuk orang yang berada dalam jalur spiritual hal seperti ini bisa menjadi sangat memalukan. Sebab tujuan kita adalah menjadi sadar sehingga dapat menolong orang lain melakukan hal yang sama, kita bersukacita sama banyaknya seperti ketika kita melihat kita gembira dalam welas asih kita. Ini adalah kesempatan kita untuk mengerti apa yang orang lain hadapi. Seperti halnya kita, mereka juga ingin terbuka, semata-mata untuk melihat dirinya sendiri melebur, seperti halnya kita, mereka memiliki kapasitas untuk bahagia, dan keluar dari ketidaktahuan yang mengungkungnya. Demi kita dan juga mereka, kita dapat membiarkan masa lalu berlalu dan hidup pada saat ini dengan hati terbuka, dan bertekat untuk melatih batin. Seperti halnya ia bersukacita dalam mereka yang secara aktif membebaskan penderitaan semua makhluk. Memang merujuk pada semua makhluk mungkin kedengaran terlalu luas dan tidak masuk akal tetapi sesungguhnya inilah satu-satunya cara untuk memandang dunia, untuk melihat kalau ada yang kita benci, kita takuti atau seseorang yang tidak dapat membuat kita berhenti untuk membencinya. Biarkan waktu yang mengubah sesuatu, sehingga kita tidak perlu putus asa kalau perubahan berjalan lambat. Latihan turut bersukacita akan mengatasi keirihatian dan persaingan. Kebijaksanaan dan welas asih selalu tersedia bagi kita. Namun, tanpa diberikan contoh nyata, kita jarang sekali mengetuk kekuatan dalam diri kita.

“Bhante, seandainya ada dua siswa Bhante yang setara keyakinannya, setara keluhurannya, dan setara kebijaksanaannya. Tetapi yang satu adalah pemberi dana dan yang lain bukan. Maka keduanya ini, ketika tubuhnya hancur, setelah kematian, akan terlahir lagi di alam bahagia, di alam surgawi. Setelah menjadi dewa demikian, O Bhante, adakah perbedaan atau ketidaksamaan di antara keduanya?” “Ada, Sumana,” kata Yang Terberkahi. “Si pemberi dana, sesudah menjadi dewa, akan melampaui yang bukan pemberi dana di dalam lima hal: di dalam jangka waktu kehidupan surgawi, keelokan surgawi, kebahagiaan surgawi, kemashyuran surgawi, dan kekuatan surgawi.” “Tetapi, Bhante, jika keduanya ini kemudian meninggal dari sana dan kembali ke dunia ini di sini, apakah masih ada perbedaan atau ketidaksamaan di antara mereka ketika mereka menjadi manusia lagi?” “Ada, Sumana,” kata Yang Terberkahi. “Si pemberi dana, setelah menjadi manusia, akan melampaui yang bukan-pemberi dana di dalam lima hal: di dalam masa hidup manusiawi, keelokan manusiawi, kebahagiaan manusiawi, kemashyuran manusiawi dan kekuatan manusiawi.” “Tetapi, Bhante, jika keduanya ini akan meninggalkan kehidupan perumah-tangga menuju kehidupan tak-berumah sebagai bhikkhu, apakah masih akan ada perbedaan atau ketidaksamaan di antara mereka ketika mereka menjadi bhikkhu?” “Ada, Sumana,” kata Yang Terberkahi. “Si pemberi dana, sesudah menjadi bhikkhu, akan melampaui yang bukan-pemberi dana di dalam lima hal: dia sering diminta untuk menerima jubah, dan jarang dia tidak diminta; dia sering diminta untuk menerima dana makanan … tempat tinggal … dan obat-obatan, dan jarang dia tidak diminta. Selanjutnya, sesama bhikkhu biasanya ramah terhadapnya lewat perbuatan, kata-kata dan pikiran; jarang mereka tidak ramah. Pemberian-pemberian yang mereka bawa kepadanya kebanyakan menyenangkan. Jarang pemberian-pemberian itu tidak menyenangkan.” “Tetapi, Bhante, jika keduanya mencapai tingkat Arahat, apakah masih akan ada perbedaan dan ketidaksamaan di antara keduanya?” “Di dalam hal itu, Sumana, kunyatakan tidak akan ada perbedaan antara satu pembebasan dan pembebasan lain.” “Luar biasa, Bhante, indah sekali! Sungguh orang mempunyai alasan yang baik untuk memberikan dana, alasan yang baik untuk melakukan tindakan-tindakan yang berjasa, jika tindakan-tindakan itu akan membantu seseorang sebagai dewa, membantu sebagai manusia, dan membantu sebagai bhikkhu.” (V, 31) Orang yang memberi kebaikan berkahnya akan bertambah; Orang yang dapat mengendalikan diri, tidak akan membenci; Orang yang tekun dalam kebajikan terhindar dari kejahatan; Dengan membuang nafsu dan kebencian serta khayalan; Maka ia akan mencapai ketenangan. ... Jasa timbul dari orang yang memberi; Tidak ada rasa permusuhan yang terbentuk bagi seseorang yang terkendali; Seseorang yang cakap meninggalkan perbuatan jahat: Dengan berakhirnya keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan, seseorang mencapai pembebasan, Nibbana Akhir. Kotbah Inspirasi: Sang Buddha

10 (sepuluh) jenis kamma buruk 1. Pembunuhan akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan 2. Pencurian akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tak tercapai, penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain. 3. Perbuatan a-susila akibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal perasaan seksnya. 4. Berdusta akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai. 5. Bergunjing akibatnya kehilangan sahabat-sahabat tanpa sebab yang berarti. 6. Kata-kata kasar dan kotor akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain. 7 Omong kosong akibatnya bertubuh cacad, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai. 8. Keserakahan akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan. 9. Dendam, kemauan jahat / niat untuk mencelakakan mahluk lain akibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela. 10. Pandangan salah akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela. http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/daftar-isi-inti-sari-agama-buddha/bab-ii-ajaran-sang-buddha

Kisah Bhikkhu Yang Ceroboh (Dhammapada 9 : 121) IX. Papa Vagga - Kejahatan (121) Jangan meremehkan kejahatan walaupun kecil, dengan berpikir: "Perbuatan jahat tidak akan membawa akibat". Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang jatuh setetes demi setetes, demikian pula orang bodoh sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan. ------------------------------------------------------------------------------------------------------- Ada seorang bhikkhu, setelah menggunakan barang-barang perabotan, seperti dipan, kursi panjang, dan peralatan milik vihara, meninggalkannya begitu saja barang-barang itu di halaman, tidak mengembalikannya ke tempat semula, sehingga terkena hujan dan matahari, dan menjadi sarang semut-semut putih. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain menegurnya karena kebiasaannya yang tidak bertanggung jawab, dia akan menjawab dengan ketus : "Saya tidak mempunyai maksud untuk menghancurkan barang-barang tersebut, lagipula barang-barang itu hanya mengalami kerusakan kecil", dan lain-lain. Selanjutnya dia meneruskan kebiasaan yang sama. Ketika Sang Buddha akhirnya mengetahui hal tersebut, Beliau memanggil bhikkhu tersebut dan berkata kepadanya : "Kamu seharusnya tidak meremehkan perbuatan buruk, walau sekecil apapun, karena itu akan menjadi besar jika kamu melakukannya sebagai kebiasaan." Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut: "Māppamaññetha pāpassa “na man taṃ āgamissati” udabindunipātena udakumbho pi pūrati, bālo pūrati pāpassa thokathokam pi ācinaṃ." Jangan meremehkan kejahatan walaupun kecil, dengan berpikir: "Perbuatan jahat tidak akan membawa akibat". Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang jatuh setetes demi setetes, demikian pula orang bodoh sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan.

Kisah Koka Si Pemburu (Dhammapada 9 : 125) IX. Papa Vagga - Kejahatan (125) Barangsiapa berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci, dan orang yang tidak bersalah, maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu, bagaikan debu yang dilempar melawan angin. ------------------------------------------------------------------------------------------------------ Suatu pagi, saat Koka pergi berburu dengan anjing-anjing pemburunya, dia melihat seorang bhikkhu memasuki kota untuk berpindapatta. Pemburu menganggap hal itu sebagai pertanda buruk dan menggerutu pada dirinya sendiri: "Gara-gara saya melihat si celaka ini, saya pikir saya tidak akan mendapatkan hasil buruan apapun hari ini", dan dia melanjutkan perjalanannya. Sesuai pikirannya, dia tidak memperoleh apapun. Pada perjalanan pulang, dia melihat kembali bhikkhu yang sama sedang berjalan pulang ke vihara setelah menerima dana makanan di kota. Pemburu itu menjadi sangat marah. Ia melepaskan anjing-anjing pemburunya ke bhikkhu tersebut. Dengan cepat bhikkhu itu memanjat pohon yang tidak dapat dijangkau oleh anjing pemburu. Kemudian si pemburu menuju ke bawah pohon itu dan menusuk tumit kaki bhikkhu tersebut dengan ujung anak panahnya. Bhikkhu itu sangat kesakitan dan tidak mampu lagi memegang jubahnya. Jubahnya terlepas dan jatuh menutupi si pemburu yang berada di bawah pohon. Anjing-anjing melihat jubah kuning terjatuh mengira bahwa bhikkhu tersebut telah jatuh dari pohon. Segera anjing-anjing tersebut menyambar jubah kuning dan tubuh yang terbalut di dalamnya, menggigit dan mencabik-cabik dengan beringas. Bhikkhu itu, dari persembunyiannya di atas pohon mematahkan sebuah ranting pohon yang kering untuk menghalau anjing-anjing itu. Akhirnya anjing-anjing itu mengetahui bahwa mereka telah menyerang tuan mereka sendiri, bukan bhikkhu, dan mereka berlarian ke dalam hutan. Bhikkhu tersebut turun dari atas pohon, dan menemukan si pemburu telah meninggal dunia. Ia merasa menyesal atasnya. Bhikkhu itu juga bertanya dalam hatinya apakah dirinya bertanggung jawab atas kematian si pemburu karena tertutup oleh jubah kuningnya? Kemudian bhikkhu itu menghadap Sang Buddha untuk menjernihkan keragu-raguannya. Sang Buddha berkata: "Anak-Ku, yakinlah dan jangan ragu; kamu tidak bertanggung jawab atas kematian pemburu itu. Pelaksanaan moral (sila) kamu juga tidak tercemari oleh kematian itu. Lagipula, pemburu itu mempunyai perbuatan keliru terhadap orang yang tidak berbuat salah, sehingga ia memperoleh keadaan akhir yang menyedihkan." Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut: "Yo appaduṭṭhassa narassa dussati suddhassa posassa anaṅgaṇassa tam eva bālaṃ pacceti pāpaṃ sukhumo rajo paṭivātaṃ va khitto." Barangsiapa berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci, dan orang yang tidak bersalah, maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu, bagaikan debu yang dilempar melawan angin. Bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Dua Belas Hutang Saÿsàra Buddha Sehubungan dengan hal ini, adalah tepat untuk menyebutkan secara singkat dua belas balasan (yang juga dapat dianggap sebagai dua belas hutang saÿsàra) yang harus dihadapi oleh Bhagavà: (i) Balasan pertama Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang pemabuk bernama Munàëi. Ia menuduh Pacceka Buddha bernama Surabhi dengan tuduhan kasar, “Orang ini adalah orang yang tidak bermoral yang menyenangi kenikmatan indria secara diam-diam.” Karena kejahatan ucapan-Nya, Beliau terlahir kembali di alam penderitan terus-menerus (Niraya). Dan dalam kehidupan terakhirnya sebagai Bhagavà, di depan umum Beliau dituduh oleh Sundarã, petapa pengembara perempuan sebagai pencari kesenangan dan telah menjalin hubungan cinta dengannya. (ii) Balasan kedua Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang siswa bernama Nanda dari seorang Pacceka Buddha bernama Sabbàbhibhu. Ia menuduh gurunya sebagai seorang yang bersifat tidak baik. Karena kejahatan ucapan-Nya, Beliau harus menderita selama seratus ribu tahun di Alam Niraya. Ketika terlahir sebagai manusia, sering kali Beliau dituduh melakukan kejahatan. Dalam kehidupan terakhir-Nya sebagai Buddha, di depan umum Beliau dituduh oleh Ci¤camàna sebagai seorang asusila yang menyebabkan kehamilannya. (iii) Balasan ketiga Bakal Buddha adalah seorang brahmana guru yang menguasai tiga Veda, seorang yang sangat terhormat. Sewaktu Beliau sedang mengajarkan Veda di Hutan Mahàvana kepada lima ratus siswa, mereka melihat di angkasa seorang petapa suci bernama Bhãma mendatangi hutan ini dengan kekuatan batinnya. (Bukannya terinsiprasi) Bodhisatta memberitahu lima ratus siswa-Nya bahwa petapa itu adalah seorang munafik yang mencari kesenangan. Para siswa memercayai apa yang dikatakan oleh guru mereka dan menyebarkan kata-kata gurunya tentang petapa suci itu sewaktu ia sedang mengumpulkan dana makanan. Lima ratus siswa itu terlahir kembali sebagai para bhikkhu siswa Bhagavà. Karena fitnah yang mereka lakukan terhadap sang petapa suci sebagai lima ratus siswa brahmana guru dalam kehidupan lampau, mereka dituduh telah membunuh Sundarã, si petapa pengembara perempuan, yang sebenarnya adalah korban para petapa itu. Harus dimengerti bahwa tuduhan terhadap para siswa Buddha juga berarti tuduhan terhadap Bhagavà sendiri. (iv) Balasan kempat Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha membunuh adik sepupunya karena iri hati. Ia melemparkan adiknya ke dalam jurang kemudian melemparnya dengan sebuah batu besar. Karena perbuatan jahat itu, Bhagava dalam kehidupan terakhirnya, menjadi korban rencana Devadatta yang hendak membunuh-Nya; tetapi karena seorang Buddha tidak dapat dibunuh, Beliau hanya menderita luka di jari kaki-Nya karena terkena pecahan batu yang dijatuhkan dari atas bukit oleh Devadatta. (v) Balasan kelima Dalam salah satu kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang anak nakal dan ketika Beliau bertemu dengan seorang Pacceka Buddha dalam suatu perjalanan, untuk bersenang-senang, Beliau melempari pribadi mulia tersebut dengan batu. Karena perbuatan jahat itu, Bhagava pernah diserang oleh sekelompok pemanah yang diutus oleh Devadatta yang bertujuan untuk membunuh Buddha. (vi) Balasan keenam Ketika Bakal Buddha adalah seorang penunggang gajah, Beliau dengan gajah-Nya, menakut-nakuti seorang Pacceka Buddha yang sedang mengumpulkan dàna makanan yang seolah-olah hendak menginjak-injak orang mulia tersebut. Karena perbuatan itu, Bhagava diancam oleh seekor gajah mabuk bernama Nàëàgiri di Ràjagaha yang dikirim (oleh Devadatta) untuk menginjak-injak Bhagava. (vii) Balasan ketujuh Dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, Bodhisatta adalah seorang raja. Karena keangkuhan-Nya sebagai raja, ia mengeksekusi seorang nara pidana (tanpa mempertimbangkan akibat kamma) dengan tangan-Nya sendiri menusuk orang itu dengan tombak. Kejahatan itu membawa-Nya ke alam penderitaan terus-menerus selama banyak tahun yang sangat lama. Dalam kehidupan-Nya sebagai Bhagava, Beliau menerima perawatan atas jari kaki-Nya yang luka dengan dibedah oleh Jãvaka, seorang dokter ahli, untuk menyembuhkannya (saat terkena pecahan batu yang dijatuhkan oleh Devadatta). (viii) Balasan kedelapan Dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, Bakal Buddha terlahir dalam sebuah keluarga nelayan. Beliau biasanya bergembira menyaksikan sanak saudara-Nya menyakiti dan membunuh ikan. (Beliau sendiri tidak melakukan pembunuhan). Sebagai akibat dari kejahatan pikiran-Nya, dalam kehidupan terakhir-Nya sebagai Buddha, Beliau sering mengalami sakit kepala. (sedangkan sanak saudara-Nya dalam kehidupan itu, mereka terlahir kembali sebagai para Sakya yang dibantai oleh Viñañåbha). (ix) Balasan kesembilan Ketika Bakal Buddha terlahir sebagai manusia pada masa ajaran Buddha Phussa, ia mencerca para bhikkhu siswa Buddha dengan berkata, "Kalian hanya pantas makan gandum, bukan nasi.” Kata-kata kasar itu berakibat, dalam kehidupan terakhir-Nya, Bhagava terpaksa memakan makanan gandum selama masa vassa di Desa Brahmana Vera¤jà (Beliau menetap di sana atas undangan Brahmana Vera¤jà.”) (x) Balasan kesepuluh Pernah Bakal Buddha terlahir sebagai seorang petinju bayaran, saat itu ia memukul punggung lawannya hingga patah. Sebagai akibat dari kejahatan ini, Bhagava dalam kehidupan terakhir-Nya sering mengalami sakit punggung. (xi) Balasan kesebelas Ketika Bakal Buddha terlahir sebagai seorang dokter dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, ia dengan sengaja meresepkan obat yang menyebabkan sakit perut kepada putra seorang kaya yang enggan membayar jasa-Nya. Atas kejahatan itu, Bhagava dalam kehidupan terakhir-Nya menderita penyakit disentri yang akut dan berdarah, sebelum meninggal dunia. (xii) Balasan kedua belas Bodhisatta pernah terlahir sebagai seorang brahmana bernama Jotipala. Ia mengucapkan kata-kata hinaan terhadap Buddha Kassapa dengan berkata, “Bagaimana mungkin bahwa orang gundul ini telah mencapai Pencerahan Sempurna? Pencerahan Sempurna adalah hal yang sangat jarang terjadi.” Kata-kata hinaan ini berakibat tertundanya Pencerahan Sempurna Bhagava. Para Bodhisatta lainnya mencapai Pencerahan Sempurna hanya dalam hitungan hari atau bulan, Buddha Gotama harus melewati enam tahun penuh penderitaan dalam pencarian-Nya. Dua belas balasan atas kesalahan masa lampau dari Bakal Buddha diceritakan oleh Bhagava sendiri, merujuk pada: Khuddaka Nikaya, Theràpadàna Pàëi, 39, Avañaphala Vagga, Pubbakammapilotika Buddha Apadàna. Kisah Pukkusa, Pangeran Malla Saat Bhagava duduk di bawah pohon setelah minum air, Pukkusa, seorang pangeran Malla yang adalah seorang siswa âëàra Kàlàma sedang dalam perjalanannya dari Kusinàra menuju Pàvà. Melihat Bhagava duduk di bawah pohon, Pukkusa dari Malla mendekati Bhagava, bersujud kepada-Nya, dan duduk di tempat yang semestinya. Kemudian ia berkata kepada Bhagavà: “Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, sungguh mengagumkan, Yang Mulia, bagaimana para petapa selalu mempertahankan ketenangan mereka!” “Yang Mulia, seperti terjadi pada masa lalu, âëara Kàlàma, selagi dalam perjalanan, meninggalkan jalan raya danduduk di bawah pohon di tepi jalan untuk melewatkan hari itu. Yang Mulia, pada waktu itu lima ratus kereta melewati âëàra Kàlàma, sangat dekat dengannya.” “Yang Mulia, seseorang yang berjalan di belakang lima ratus kereta itu mendekati âëàra Kàlàma dan bertanya, “Tuan, apakah engkau melihat lima ratus kereta lewat?” (âëàra), “Teman, aku tidak melihatnya.” “Tuan, bagaimana ini? Apakah engkau mendengar suara kereta-kereta itu?” “Teman, aku tidak mendengar suaranya, juga.” “Tuan, bagaimana ini? Apakah engkau tertidur?” “Teman, aku juga tidak tertidur.” “Tuan, bagaimana ini? Apakah engkau sadar?” “Ya, teman, aku sadar.” “Tuan, engkau mengatakan bahwa engkau tidak melihat juga tidak mendengar lima ratus kereta yang lewat di dekatmu meskipun engkau dalam keadaan sadar. Namun jubahmu yang berlapis dua diselimuti oleh debu, bukan?” “Demikianlah,teman.” “Yang Mulia, setelah melakukan dialog tersebut dengan âëàra Kàlàma, orang itu berpikir, “Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, sungguh mengagumkan, Yang Mulia, bagaimana para petapa selalu mempertahankan ketenangan mereka! Petapa âëàra ini, walaupun sadar dan bangun, tidak melihat atau mendengar lima ratus kereta yang lewat di dekatnya!” dan setelah mengucapkan kata-kata penghormatan kepada âëàra Kàlàma, ia pergi.” Selanjutnya Bhagava berkata kepada Pukkusa dari Malla, “Pukkusa, bagaimanakah menurutmu mengenai hal berikut? (i) seseorang, walaupun dalam keadaan sadar dan bangun, tidak melihat atau mendengar lima ratus kereta yang lewat di dekatnya, (ii) seorang lainnya, walaupun sadar dan bangun, tidak melihat atau mendengar hujan lebat yang turun disertai gemuruh halilintar, kilat dan petir (di dekatnya). Sekarang dari kedua orang ini, manakah yang lebih sulit dicapai? Manakah yang lebih sulit terjadi?” Kemudian Bhagavà berkata: “Pukkusa, pada suatu ketika Aku sedang berada di dalam sebuah gubuk daun di Kota âtuma. Pada saat itu turun hujan deras disertai gemuruh halilintar, kilat dan petir. Petir menyambar didekat gubuk-Ku dan membunuh empat sapi dan dua orang petani bersaudara.” “Kemudian, Pukkusa, sejumlah besar orang keluar dari kota itu untuk melihat tempat di mana empat ekor sapi dan dua orang petani terbunuh. Pukkusa, pada waktu itu, Aku keluar dari gubuk daun dan sedang berjalan-jalan di udara terbuka, di dekat gubuk. Pukkusa, seseorang dari kelompok itu mendekati-Ku, dan setelah bersujud kepada-Ku, ia berdiri di tempat yang semestinya. Pukkusa, Aku bertanya kepada orang itu, “Teman, ada apakah orang-orang ini berkumpul?” “Yang Mulia, empat ekor sapi dan dua orang petani disambar petir dan tewas sewaktu hujan deras turun tadi disertai gemuruh halilintar dan petir, orang-orang ini datang untuk melihat (lihatlah kerusakannya). Tetapi, Yang Mulia, di manakah Engkau (pada waktu itu)?” “Teman, Aku ada di sini dari tadi.” “Yang Mulia, bagaimanakah ini? Apakah Engkau melihat (apa yang terjadi)?” “Teman, Aku tidak melihatnya.” “Yang Mulia, bagaimanakah ini? Apakah Engkau mendengar suaranya?” “Teman, aku tidak mendengar suaranya juga.” “Yang Mulia, bagaimanakah ini? Apakah Engkau tertidur?” “Teman, Aku juga tidak tetidur.” “Yang Mulia, bagaimanakah ini? Apakah Engkau sadar?” “Ya, teman, Aku sadar.” “Yang Mulia, begitukah? Walaupun sadar dan bangun, Engkau tidak melihat dan tidak mendengar hujan deras, gemuruh halilintar dan kilat, serta petir yang menyambar?” “Begitulah, teman.” “Pukkusa, pada akhir percakapan itu, orang itu berpikir, “Sungguh menakjubkan, sungguh mengagumkan, Yang Mulia, bagaimana para petapa (dalam hal ini para bhikkhu) selalu mempertahankan ketenangan mereka! Bhagava di sini, walaupun sadar dan bangun, tidak melihat dan tidak mendengar hujan deras, gemuruh halilintar dan kilat, serta petir yang menyambar. Dan setelah mengucapkan kata-kata penghormatan kepada-Ku, ia bersujud kepada-Ku dan pergi.” Pukkusa dari Malla Memberikan Persembahan Istimewa Kepada Bhagava Setelah Bhagava mengucapkan kata-kata ini, Pukkusa dari Malla berkata kepada Bhagava: “Yang Mulia, meskipun aku sangat menghormati âëàra Kàlàma. Sekarang aku telah membuangnya (seperti aku membuang sampah) dalam tiupan angin, atau menghanyutkannya (seperti benda yang tidak berharga) dalam aliran sungai.” “Yang Mulia, sungguh menakjubkan (Dhamma itu)! Yang Mulia, sungguh menakjubkan (Dhamma itu)! Hal ini seperti, Yang Mulia, membalikkan apa yang terbalik, atau seperti menemukan apa yang hilang, atau bagaikan seorang pengembara yang tersesat ditunjukkan jalan yang benar, atau bagaikan lampu yang dinyalakan di dalam kegelapan agar mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda, demikian pula Bhagava telah menunjukkan Dhamma kepadaku dalam berbagai cara.Yang Mulia, aku berlindung di dalam Buddha, aku berlindung di dalam Dhamma, aku berlindung di dalam Sangha! Sudilah Bhagava menganggapku sebagai seorang siswa awam, seorang yang berlindung di dalam Tiga Permata, sejak hari ini hinggaakhir hidupku.” Kemudian Pukkusa dari Malla memanggil orangnya dan berkata kepadanya, “O teman, pergi dan bawakan sepasang kain bagus berwarna keemasan yang dipersiapkan khusus untuk upacara-upacara besar.” Dan ketika sepasang kain berwarna keemasan itu dibawa kepadanya, Pukkusa, si pangeran Malla mempersembahkannya kepada Bhagava, dengan berkata, “Yang Mulia, sudilah Bhagava, berkat welas asih-Mu kepadaku, menerima sepasang kain baik ini.” Bhagava berkata, “Kalau begitu, Pukkusa, berikan satu untuk-Ku dan satu untuk ânanda.” Kemudian Pukkusa, si pangeran Malla mempersembahkan sehelai untuk Bhagava dan sehelai lagi untuk Yang Mulia ânanda. (Sehubungan dengan hal ini, akan muncul pertanyaan, “Apakah Yang Mulia ânanda menerima persembahan Pukkusa?” Dan jawabannya adalah ya. Kemudian si penanya akan memperdebatkan tentang kesepakatan sebelummya bahwa ânanda tidak akan menerima persembahan yang ditujukan kepada Bhagava (kesepakatan untuk menerima empat jenis dan menolak empat jenis) yang ia ajukan ketika ia menerima tugas sebagai pelayan pribadi Bhagava. Persembahan ini diterima dengan pengecualian atas tiga alasan berikut: (i) Hingga saat ini, ânanda telah melakukan tugas-tugasnya dengan baik dalam melayani Bhagavà. (ii) Fakta bahwa ia menerima persembahan ini, akan mengubah pandangan orang lain yang menganggap bahwa jika ia tidak menerima persembahan itu, berarti ânanda tidak melayani Bhagava dengan baik. Sehingga Bhagava tidak memberikan hadiah apa pun kepadanya setelah dua puluh lima tahun pelayanannya. (iii) ânanda memahami bahwa Bhagava memberikan kesempatan kepada Pukkusa untuk memperoleh jasa dengan berdana kepada Sangha, karena berdana kepada ânanda, berarti berdana kepada Sangha. Bhagava juga mengetahui bahwa ânanda tidak akan menggunakan kain itu untuk dirinya sendiri, namun akan mempersembahkannya kepada Bhagava.) Kemudian Bhagava membabarkan kepada Pukkusa, pangeran Malla, tentang manfaat-manfaat ajaran, menasihatinya agar melatih Dhamma, dan menyemangatinyadi dalam latihan. Setelah mendengarkan khotbah itu, Pukkusa si pangeran Malla bangkit dari duduknya dan bersujud kepada Bhagava, dan pergi dengan hormat. Tak lama setelah Pukkusa si pangeran Malla pergi, Yang Mulia ânanda memakaikan dengan rapi sepasang kain baik berwarna keemasan itu ke tubuh Bhagava. Begitu terpakai oleh Bhagava, kemegahan sepasang kain keemasan itu memudar karena kalah dengan kemegahan alami tubuh Bhagava. Yang Mulia ânanda terkesima. Ia menyerukan apa yang ia lihat. Kemudian Bhagava menjelaskan kepadanya sebagai berikut: “ânanda, apa yang engkau katakan memang benar. ânanda, apa yang engkau katakan memang benar. Ada dua peristiwa di mana warna alami Tathàgata menjadi sangat jernih dan kulit-Nya menjadi sangat cerah. Dua peristiwaitu adalah: Pada malam, ânanda, ketika Tathàgata mencapai Pencerahan Sempurna, dan pada malam menjelang meninggal dunia, tidak menyisakan jejak lima kelompok kehidupan, dan mencapai Kedamaian Tertinggi (Anupàdisesa Nibbàna). ânanda, ini adalah dua peristiwa di mana warna alami Tathàgata menjadi sangat jernih dan kulit-Nya menjadi sangat cerah. ânanda, hari ini, pada jaga terakhir malam ini, di dalam hutan pohon sal milik pangeran Malla, di ujung jalan menuju Kusinàra, di antara dua pohon sal kembar, Pencapaian Parinibbàna Tathàgata akan terjadi.” Kemudian Bhagava berkata, “Marilah, ânanda, kita pergi ke Sungai Kakudhà.” “Baiklah, Yang Mulia,” jawab Yang Mulia ânanda. Kemudian Bhagava pergi ke Sungai Kakudhà disertai oleh banyak bhikkhu. Beliau masuk ke air, mandi, dan meminum air. Kembali ke tepi sungai, kemudian pergi ke hutan mangga di tepi sungai. Disana Beliau berkata kepada Yang Mulia Cunda (Yang Mulia ânanda tetap berada di tepi sungai untuk mengeringkan jubah mandi Bhagava), “Cunda, lipatlah empat jubah-Ku yang berlapis ganda dan letakkan di atas tanah. Aku lelah. Aku ingin berbaring.” Yang Mulia Cunda melakukannya dengan penuh hormat, meletakkan jubah berlapis ganda yang telah dilipat empat di atas tanah. Dan Bhagava berbaring di sisi kanan dalam posisi mulia, dengan penuh perhatian dan pemahaman murni. Yang Mulia Cunda berjaga di sana, duduk di dekat Bhagava. Penjelasan dari Jasa yang Berasal dari Dua Jenis Makanan Ketika Yang Mulia ânanda tiba di hadapan Bhagava, Bhagava menjelaskan tentang makanan terakhir-Nya sebagai berikut: “ânanda, seseorang mungkin merasa tidak senang dengan Cunda, putra si pandai besi dengan berkata, ‘Teman Cunda, Bhagava meninggal dunia setelah memakan makanan yang engkau persembahkan. Betapa malangnya engkau.” “Jika hal ini terjadi, Cunda harus dihibur sebagai berikut: Berbahagialah Cunda, Bhagava meninggal dunia setelah memakan makanan yang engkau persembahkan. Betapa beruntungnya engkau. Berbahagialah Cunda, ini adalah kata-kata yang kudengar dari Bhagavà sendiri: Ada dua persembahan makanan yang melampaui semua persembahan makanan lain dalam hal jasa, yang menghasilkan jasa yang sebanding di antara keduanya. Kedua persembahan itu adalah: makanan yang dipersembahkan kepada Tathàgata yang mana setelah memakannya Tathàgata mencapai Pencerahan Sempurna, dan makanan yang dipersembahkan kepada Tathàgata, dan setelah memakannya, Tathàgata meninggal dunia tanpa meninggalkan jejak lima kelompok kehidupan, dan mencapai Kedamaian Tertinggi, Anupàdisesa Nibbàna. Kedua persembahan ini melampaui semua persembahan lain dalam hal jasa, dan yang jasanya sebanding antara keduanya. Kata-kata ini kudengar dari Bhagava sendiri. Karena itu, berbahagialah Cunda, putra si pandai besi telah menabung: jasa yang akan memungkinkannya memperoleh umur panjang, jasa yang memungkinkannya memiliki penampilan yang baik, jasa yang memungkinkannya sejahtera dan bahagia, jasa yang memungkinkannya memperoleh banyak pengikut, jasa yang memungkinkannya terlahir kembali di alam dewa, jasa yang memungkinkannya mengungguli yang lainnya.” Demikianlah Cunda, putra si pandai besi harus dihibur. Kemudian, Bhagava, memahami masalah itu, mengucapkan syair berikut, sebagai ungkapan kegembiraan, udàna gàthà. Dalam diri seorang yang memberi, jasa akan tumbuh, di dalam diri seorang yang mengendalikan diri, kebencian tidak akan datang. Seorang yang memiliki Kebijaksanaan Pandangan Cerah melenyapkan kejahatan. Seseorang yang memiliki kedermawanan, moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan, setelah menghancurkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan, akan mencapai kedamaian. (Di sini, “jasa yang sebanding” dalam nasi susu Sujàtà (di bawah pohon Bodhi) dan daging babi lembut Cunda akan menimbulkan perdebatan.) Akan muncul pertanyaan, “Pada waktu Bhagava memakan nasi susu Sujàtà, Beliau belum menghancurkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan, sedangkan pada saat Beliau memakan persembahan makanan dari Cunda, Beliau telah bebas dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Dengan demikian kondisi kesucian penerima dàna tidaklah sama, bagaimana mungkin jasa yang dihasilkan dalam persembahan itu bisa sama?” Jawabannya adalah: faktor-faktor yang sama pada keduanya adalah: (a) Kedua makanan itu mengarah menuju Parinibbàna. (b) Kedua makanan itu mengarah menuju pencapaian Jhàna. (c) Kedua makanan itu mengarah menuju perenungan yang sama oleh kedua orang penyumbang itu. Penjelasan: (a) Setelah memakan nasi susu Sujàtà, Bhagavà berhasil memadamkan kotoran batin dan mencapai Kebuddhaan yang merupakan Parinibbàna bagi kilesa. Pencapaian Nibbàna dengan masih adanya lima kelompok kehidupan. Setelah memakan daging babi lembut Cunda, Bhagava memadamkan kelahiran berulang dari lima kelompok kehidupan yang merupakan Parinibbàna bagi khandha. Pencapaian Nibbàna tanpa adanya lima kelompok kehidupan yang tersisa. Berkat nasi susu Sujàtà, muncullah dalam tubuh Bhagava, sistem badan jasmani yang kuat (paõãta råpaÿ). Ini memberikan kekuatan kepada sistem batin sehingga tubuh Dhamma, yang terdiri dari timbulnya Pandangan Cerah, timbulnya Magga, dan timbulnya Phala, mampu menghancurkan kotoran batin tanpa kesulitan, dan dengan demikian mengarah menuju Parinibbàna kilesa. Persembahan makanan dari Cunda juga demikian, memberikan nutrisi yang cukup bagi Bhagava sehingga Beliau mampu melepaskan lima kelompok kehidupan tanpa kesulitan, dan dengan demikian mengarah menuju Parinibbàna khandha. (b) Pada hari Beliau mencapai Pencerahan Sempurna, Bhagava, setelah memakan nasi susu yang dipersembahkan oleh Sujàtà, memperoleh cukup kekuatan untuk berdiam di dalam pencapaian konsentrasi yang terdiri dari 2,4 juta crore pencerapan, deva sikavaëa¤jana samàpatti yang menjadi rutinitas harian-Nya. Setelah memakan persembahan makanan dari Cunda, juga Bhagavà (meskipun menderita disentri parah) mampu menjalani rutinitas hariannya yaitu berdiam di dalam pencapaian konsentrasi yang terdiri dari 2,4 juta crore pencerapan. (c) Sujàtà mempersembahkan nasi-susu kepada Bakal Buddha dengan pikiran bahwa Beliau adalah dewa penjaga pohon banyan (yang kemudian disebut pohon Mahàbodhi). Tetapi belakangan, saat ia mengetahui bahwa itu adalah Buddha, yang mencapai Kebuddhaan setelah memakan nasi susunya dan bahwa Buddha mendapatkan nutrisi selama empat puluh sembilan hari dari makanan yang ia persembahkan, ia merasa sangat berbahagia. “Betapa beruntungnya aku, betapa besarnya jasaku!” ia merenungkannya terus-menerus, dan dengan demikian meningkatkan kegembiraan dan kepuasan serta sukacita. Demikian pula, ketika Cunda, putra si pandai besi, mengetahui bahwa makanan yang ia persembahkan adalah makanan terakhir Bhagava dan setelahnya Bhagava memasuki Kedamaian Tertinggi setelah meninggal dunia tanpa sisa, kegembiraannya meluap-luap. “Betapa beruntungnya aku, betapa besarnya jasaku!” ia merenungkannya terus-menerus, dan dengan demikian meningkatkan kegembiraan dan kepuasan serta sukacita. Setiap Hari Secara Rutin Bhagava Berdiam di Dalam 2,4 Juta Crore Pencerapan Seperti yang dibahas dalam Saÿyutta òãkà, Vol. I (Sagàthà Vagga, Saÿyutta òãkà; Brahmà Saÿyutta, 2: Dutiya Vagga,5. Parinibbàna Sutta, 251-252) Menurut Beberapa Guru(Kecivàda) Bhagava, dalam rutinitas harian-Nya, berdiam di dalam pencerapan welas asih yang berjumlah 1,2 juta crore kali, dan pencerapan Arahatta-Phala dalam jumlah yang sama—demikianlah sehingga totalnya 2,4 juta crore yang disebut Deva Sikavaëa¤jana Samàpatti. (Penjelasan lain:) Bagi para Buddha, momen-pikiran (bhavaïga citta) adalah sangat cepat. Memasuki dan berdiam di dalam pencerapan tertentu dari satu pencerapan satu ke pencerapan lainnya adalah suatu keahlian yang sempurna. Untuk masuk ke dalam pencerapan dan keluar dari pencerapan itu, Bhagavà hanya memerlukan waktu dua atau tiga momen-pikiran. Karena itu, adalah rutin bagi Bhagava untuk berdiam di dalam lima jenis pencerapan berbentuk, empat jenis Penyerapan Tanpa Bentuk, dan Appama¤¤à Samàpatti, Nirodha Samàpatti, dan Arahatta-Phala Samàpatti, dengan demikian ada dua belas jenis Samàpatti. Seratus ribu crore kali dari masing-masing Samàpatti ini dimasuki setiap pagi, dan jumlah yang sama diulangi lagi pada sore hari, sehingga setiap harinya, secara rutin 2,4 juta crore pencerapan terjadi. (Ini menurut beberapa guru). Menurut Para Guru Lain (Aparevàda) Adalah kebiasaan Bhagava untuk berdiam di dalam pencerapan penghentian (Nirodha Samàpatti) setiap hari. Memasuki Pencerapan Penghentian harus didahului oleh Meditasi Pandangan Cerah. Bagi para Buddha, subjek perenungan untuk mengembangkan Meditasi Pandangan Cerah yang menuju Pencerapan Penghentian adalah Pañiccasamuppàda (Mahàvajirà Vippassanà). Prosedur meditasi ini melibatkan perenungan atas dua belas faktor Pañiccasamuppàda dalam urutan maju dimulai dari avijjà (kebodohan), masing-masing berjumlah seratus ribu crore kali. Dengan demikian 1,2 juta crore kali untuk dua belas faktor Musabab Yang Saling Bergantung atau Pañiccasamuppàda. Kemudian merenungkan dua belas faktor yang sama dalam urutan mundur, juga berjumlah 1,2 juta crore kali. Memasuki Pencerapan Penghentian, dengan subjek perenungan Pañiccasamuppàda dengan demikian masing-masing berjumlah 1,2 juta crore kali untuk urutan maju dan urutan mundur, sehingga totalnya adalah 2,4 juta crore kali. (Ini adalah menurut guru-guru lainnya.) Karena Pencerapan 2,4 juta crore kali ini dilakukan setiap hari oleh Bhagava, apakah bedanya dengan pencerapan pada hari Pencerahan Sempurna dan pada hari meninggal dunia? Bedanya adalah, seperti dijelaskan dalam Komentar Matravagga, Dãgha Nikàya, adalah bahwa pada kedua hari istimewa ini, pencerapan itu dilakukan lebih keras, dengan disiplin batin yang memerlukan perenungan atas tujuh aspek fenomena jasmani (råpa sattaka) dan tujuh aspek fenomena batin (nàma sattaka) dalam Meditasi Pandangan Cerah awal. Kusinàra Sebagai Tempat Peristirahatan Terakhir Bhagava Kemudian Bhagava berkata kepada Yang Mulia ânanda, “Marilah, ânanda, kita pergi ke Hutan Sal milik pangeran Malla di mana jalannya berbelok ke arah Kota Kusinàra, di tepi seberang Sungai Hira¤¤avatã. “Baiklah, Yang Mulia,” jawab Yang Mulia ânanda. Kemudian Bhagava, disertai oleh banyak bhikkhu, (akhirnya) tiba di Hutan Sal milik pangeran Malla di mana jalannya berbelok ke arah Kota Kusinàra di tepi seberang Sungai Hira¤¤avatã. Di sana beliau berkata kepada Yang Mulia ânanda, “ânanda, letakkan dipan itu dengan bagian kepala menghadap utara di antara dua pohon sal kembar, ânanda, Aku lelah, dan ingin berbaring.” “Baiklah, Yang Mulia,” jawab Yang Mulia ânanda, dan meletakkan dipan dengan bagian kepala menghadap utara di antara dua pohon sal kembar, dan Bhagavà kemudian berbaring di sisi kanan dalam posisi mulia, dengan kaki kiri di atas kaki kanan, dengan penuh perhatian dan pemahaman murni. (beberapa hal penting patut disajikan di sini.) Dalam perjalanan ini dari Pàvà ke Kusinàra, sejumlah besar para bhikkhu, nyaris tidak terhitung banyaknya, telah berkumpul di sekeliling Bhagav karena sejak saata berita mengenai kematian Bhagava yang semakin dekat menyebar keluar dari Desa Veëuva, semua bhikkhu yang menetap di berbagai tempat mendatangi Bhagava dan tidak pergi meninggalkan Beliau lagi. Pohon Sal Kembar Di dalam Hutan Sal milik pangeran Malla di mana dipan untuk Bhagava diletakkan, terdapat dua baris pohon sal di sebelah utara (di bagian kepala dari dipan tersebut) dan di sebelah selatan. Di tengah-tengah dua barisan ini, terdapat sepasang pohon sal di masing-masing ujung dipan tersebut yang akar, dahan dan daun-daunannya saling terpilin sehingga disebut sebagai pohon sal kembar. Di sana terdapat sebuah dipan yang biasa digunakan oleh para pangeran Malla di Hutan Sal tersebut dan dipan itulah yang diperintahkan oleh Bhagava kepada ânanda agar disiapkan untuk-Nya, dan yang segera dilaksanakan. Bhagava Merasa Lelah “ânanda, Aku lelah, dan ingin berbaring.” Pentingnya kata-kata ini harus dipertimbangkansebagai berikut: Kekuatan fisik Bhagava setara dengan kekuatan seribu crore gajah normal, atau setara dengan sepuluh gajah putih Chaddanta, atau setara dengan sepuluh ribu crore manusia berkekuatan normal. Semua kedigdayaan ini terbuang habis oleh penyakit disentri bagaikan air yang dituang ke dalam saringan, setelah Bhagava memakan makanan yang dipersembahkan oleh Cunda. Jarak dari Pàvà hingga Kusinàra hanyalah tiga gàvutta (tiga perempat yojanà, satu yojanà adalah jarak yang berkisar antara tujuh setengah hingga dua belas setengah mil), namun Bhagava harus beristirahat dua puluh lima kali dalam perjalanan ini. Pada akhir perjalanan ini,ketika memasuki Hutan Sal saat matahari terbenam, Beliau diliputi oleh rasa sakit. Karena itu keinginan untuk berbaring adalah isyarat yang mengkhawatirkan bagi dunia. Kusinàra, Pilihan Bhagava Sebagai Tempat Peristirahatan Terakhir Di sini akan muncul pertanyaan, “Mengapa Bhagava harus bersusah-payah untuk pergi ke Kusinàra? Apakah tempat lain tidak sesuai sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi-Nya?” Jawabannya adalah, bukan karena tempat lain tidak layak sebagai tempat penting tersebut, tetapi ada tiga alasan mengapa Bhagava memilih kota kecil Kusinàra sebagai tempat peristirahatan terakhir-Nya, yaitu: (i) Bhagavà melihat tiga kemungkinan berikut: Beliau mempertimbangkan, “Jika Aku meninggal dunia di tempat lain bukan di Kusinàra, maka tidak akan ada kesempatan untuk membabarkan Mahàsudassana Sutta. Khotbah panjang yang memerlukan dua sesi pembacaan pada sidang Agung ini dan yang mengungkapkan bahwa bahkan sebagai manusia biasa, ketika Bhagava masih menjadi seorang Bakal Buddha, seseorang dapat menikmati kemuliaan dewa (surgawi) di bumi ini, dan tempat yang paling tepat untuk peristiwa ini hanyalah di Kusinàra. Khotbah ini akan membangkitkan minat para pendengar untuk berbuat kebajikan.” (ii) “Jika Aku meninggal dunia di tempat lain bukan di Kusinàra, maka Subhadda, si petapa pengembara tidak akan mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan-Ku, sehingga ia akan mengalami kerugian besar. Karena ia hanya dapat dicerahkan hanya oleh seorang Buddha dan bukan oleh siswa Buddha. Petapa pengembara Subhadda akan berada di sana di Kusinàra, dan ia akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan (cerdas) kepada-Ku, dan pada akhir jawaban-Ku atas pertanyaannya, ia akan menganut ajaran, memelajari metode latihan untuk mengembangkan Pandangan Cerah, dan akan menjadi Arahanta terakhir dalam masa kehidupan-Ku. (iii) “Jika Aku meninggal dunia di tempat lain, akan terjadi pertumpahan darah karena memperebutkan relik-relik Tathàgata. Di Kusinàra, Brahmana Dona akan mampu mencegah pertikaian itu dan pembagian relik-relik dapat dilakukan dalam damai.” Itulah tiga alasan mengapa Bhagava bersusah-payah untuk pergi ke Kusinàra. Pepohonan Sal dan Para Dewa Memberi Hormat Kepada Bhagava Ketika Bhagava berbaring di atas dipan, pohon sal kembar berbunga dan mekar sempurna, meskipun saat itu bukanlah musim berbunga, dan untuk menghormati Tathàgata, pohon mengugurkan bunga-bunganya, terus-menerus menebarkan bunga di atas tubuh Tathàgata. Juga, bunga surgawi mandàrava turun terus-menerus dari angkasa ke atas tubuh Bhagavà, sebagai penghormatan kepada Tathàgata oleh para makhluk surgawi. Juga, bubuk cendana turun terus-menerus dari angkasa ke atas tubuh Bhagavà, sebagai penghormatan kepada Tathàgata oleh para makhluk surgawi. Dan, sebagai penghormatan kepada Tathàgata, musik-musik surgawi mengalun di angkasa, melodi-melodi surgawi berkumandang di angkasa, sebagai penghormatan kepada Tathàgata. Cara Terbaik Dalam Menghormati Bhagavà Kemudian Bhagava berkata kepada Yang Mulia ânanda, “ânanda, pohon sal kembar mendadak mekar berbunga walaupun bukan musimnya, dan sebagai penghormatan kepada Bhagava, turun hujan bunga, terus-menerus bertebaran di atas tubuh Tathàgata.” “Juga, bunga surgawi mandàrava turun terus-menerus dari angkasa ke atas tubuh Bhagava, sebagai penghormatan kepada Tathàgata oleh para makhluk surgawi.” “Juga, bubuk cendana turun terus-menerus dari angkasa ke atas tubuh Bhagava, sebagai penghormatan kepada Tathàgata oleh para makhluk surgawi.” “Dan, sebagai penghormatan kepada Tathàgata, musik-musik surgawi mengalun di angkasa, melodi-melodi surgawi berkumandang di angkasa, sebagai penghormatan kepada Tathàgata.” “ânanda, semua bentuk penghormatan ini bukanlah penghormatan, penghargaan atau pemujaan yang tepat terhadap Tathàgata. ânanda, para bhikkhu, atau para bhikkhunã, atau umat awam, atau umat awam perempuan, yang berlatih sesuai ajaran yang mengarah menuju Lokuttara, berperilaku benar di dalam latihan dan menjalani kehidupan benar, hanya itulah cara yang tepat dalam menghormati, menghargai, dan memuja Tathàgata. “Oleh karena itu, ânanda, latihlah dirimu dengan tekun dan tekad yang kuat untuk berlatih sesuai ajaran yang mengarah menuju Lokuttara; bertingkah laku benar di dalam latihan dan menjalani ke hidupan benar.” (Di sini, hujan bunga oleh pohon sal kembar harus dipahami sebagai tindakan penghormatan oleh para dewa penjaga pohon tersebut dengan mengguncang dahan-dahan pohon tersebut.) “Bunga-bunga mandàrava di Danau Nandà (di Alam Dewa Tàvatiÿsa).” Daun dari tanaman itu berukuran sebesar sebuah payung, dan serbuk sari yang terkumpul dari tiap-tiap bunga banyaknya sekeranjang. Bukan hanya bunga mandàvara, tetapi juga bunga-bunga surgawi lainnya, seperti bunga koral dan lain-lainnya ditebarkan oleh para dewa yang berdiam di sekitar tempat itu di batas-batas cakkavàëa, Alam Dewa Tàvatiÿsa dan alam brahmà sehingga bunga surgawi turun terus-menerus. Demikian pula, “cendana surgawi” di sini, harus dimengerti mewakili berbagai jenis kayu-kayu harum bukan saja dari alam dewa, tetapi juga dari alam nàga, garuda, dan alam-alam lain selain alam manusia, juga berbagai jenis dupa-dupa alam dalam berbagai bentuk seperti debu emas, bubuk perak, mineral, batu, dan lain-lain. Pendeknya, semua makhluk-makhluk surgawi dan makhluk bumi bersama-sama menebarkan debu harum dalam berbagai jenis terus-menerus ke atas tubuh Bhagavà yang sedang berbaring di Kusinàra. “Musik surgawi” merupakan simfoni umum yang dimainkan oleh para musisi dari semua alam yang mencakup sepuluh ribu alam semesta, termasuk para dewa, nàga, garuda, dan manusia, yang mengalun di angkasa alam semesta ini. >>> Karangan Bunga Surgawi

* Kesadaran, Tamu Yang akan Meninggalkan Tubuh yang bertindak sebagai Rumah Singgah * Hidup adalah ketika pikiran tinggal bersama dalam tubuh, tetapi tubuh hanyalah rumah singgah. Pikiran tidak dapat tinggal disana selamanya. Satu hari tubuh dan pikiran akan terpisah. Inilah yang kita sebut kematian. Identitas ego yang kita bangun bagi diri kita sendiri didasarkan pada tubuh ini, masyarakat dan pengaruh sosial yang ada dalam lingkungan tempat kita hidup, segala sesuatu yang akrab dengan kelima panca indra kita, semua ini akan berhenti ketika kesadaran berpindah keluar dari tubuh kita. Kita menghabiskan banyak waktu dan energi untuk membangun sebuah identitas," Saya berkebangsaan ini, beragama ini, Saya berasal dari kelas ekonomi ini, Saya berstatus pendidikan ini, minat Saya di sini, Saya berasal dari grup dengan ras ini. Saya berasal dari grup etnis ini, dan seterusnya." Kita berpikir dengan salah bahwa semua identitas yang menggambarkan siapa diri kita bahwa semua itu bersifat selamanya dan memiliki eksistensi sendiri. Tetapi pada saat kematian, kesadaran berpindah keluar dari tubuh ini dan seluruh hal akan hancur. Sadar akan kematian membuat kita bertanya kepada diri kita sendiri apa yang penting dalam hidup ini. Pentingkah bagi kita untuk melakukan segala macam hal untuk membuat orang lain mencintai kita? Apakah lebih penting untuk berhubungan dengan orang tanpa terikat dan melekat serta melangkah lebih jauh untuk mengembangkan praktik spiritual kita? Melepaskan ikatan bukan berarti kita bersikap dingin dan tidak mencintai. Namun hal itu hanya berarti bahwa kita tidak melekat. Dengan demikian akan ada ruang kosong bagi kasih sayang yang sesungguhnya dan komunikasi yang baik. Mengetahui bahwa kekayaan yang dihasilkan akan ditinggalkan, pentingkah bekerja hingga larut malam untuk mendapatkan uang yang lebih banyak? Bahkan ada yang sampai rela mempertaruhkan kesehatannya sendiri lupa kapan waktunya makan, tidur, beristirahat hanya untuk memiliki kekayaan duniawi! Karena kesadaran, sang tamu, akan meninggalkan tubuh sebagai rumah singgahnya, haruskah kita berlari sepanjang waktu mencoba untuk membuat pikiran kita bahagia dengan sedikit kesenangan ini dan itu?Apakah ada sesuatu yang lebih penting yang dapat kita lakukan dengan pikiran kita? Dengan berpaku pada pertanyaan tersebut, kita akan menyadari bahwa praktik Dhamma merupakan hal yang sangat penting karena pada saat kita meninggal, kekayaan kita akan ditinggalkan, tubuh kita akan ditinggalkan, teman dan kerabat akan ditinggalkan. Apa yang mengikuti kita adalah benih karma yang kita ciptakan untuk mendapatkan dan melindungi semua hal ini. Apa yang datang pada kita adalah kebiasaan mental dan emosi yang kita kembangkan selama hidup kita. Ini bisa berupa kebiasaan bodoh, permusuhan, dan keterikatan. Namun bisa juga merupakan kebiasaan kebaikan, pengertian dan kemurah hatian, disiplin etis, dan kebijaksanaan. Kebiasaan mana yang ingin kita kembangkan? Jenis karma apa yang ingin kita ciptakan? Merenungkan hal ini merupakan hal yang penting karena ini yang akan mengikuti kita. Sadhu...Sadhu...Sadhu..._/\_

Seorang yogi harus memiliki SILA / moralitas yang sempurna tanpa noda. SILA ini adalah ‘akar’ bagi kehidupan Samadhi yang benar. Dengan memiliki SILA yang sempurna, batin seorang Yogi akan menjadi tenang dan damai. Ia tidak akan mempunyai peraaan resah-gelisah, pikiran-pikiran yang kacau, takut, dan lain-lain. Apalagi yang harus ditakuti bila kita telah bertindak benar dan bajik ? Tidak akan ada orang yang menghujat kita karena kita menjadi seorang pembohong, tidak akan ada debt-collector yang mengejar-ngejar kita karena kita melarikan sejumlah uang, dan lain-lain ‘mimpi-buruk’. Bagi seorang yang memegang teguh SILA, batinnya akan jauh dari ketakutan-ketakutan tersebut. Bila seseorang tidak memiliki SILA atau mengurangi SILA jangan pernah berharap ia akan berhasil mencapai ‘kesuksesan’ dalam samadhinya. Seorang yogi yang telah memiliki sila yang sempurna dan belum mencapai tingkat Arahat harus mempraktekkan vipassana-bhavana untuk mencapai pembebasan; Arahat ( catatan ; tingkat kesucian Arahat hanya bisa dicapai dengan hidup sebagai seorang petapa yang melepaskan keduniawian ( dalam terminology Buddhis disebut: ke-bhikkhu-an ), sedang tiga tingkatan dibawahnya: Sotapanna, Sakadagami, Anagami, bisa dicapai oleh ummat non-Bhikkhu. Saat seseorang mencapai Arahat, tetapi tidak hidup mem-Bhikkhu, maka ia akan ‘meninggal’, karena batin yang ‘halus’ menuntut tubuh / cara hidup yang halus pula ). Bila seseorang yang baru menempuh ‘kehidupan’ Samadhi dan ingin mempraktekkan ‘vipassana’ ( Samadhi‘ pandangan-terangan’ ), maka ia harus bisa mencapai ketenangan pertama (Jhana I). Kekuatan vipassana ini dapat memotong hawa-nafsu dan segala bentuk kekotoran batin. Jika seorang siswa / yogi belum mencapai Jhana I maka ia belum berhasil dalam Samadhi, ini merupakan hukum mutlak. Kesejahteraan dalam kehidupan sekarang dan kehidupan mendatang, tidak ada hal lain yang seperti sila sebagai tempat bersandar, tempat berpijak, tempat bergantung, dan tempat berlindung. Tidak ada hiasan yang seperti hiasan sila, tidak ada bunga yang seperti bunga sila, dan tidak wangi-wangian yang seperti wangi-wangian sila. Semua manusia dan para dewa tidak pernah bosan melihat seseorang yang diliputi dengan bunga-bunga sila, wangi-wangian sila, dan dihias dengan hiasan sila.

* Kebenaran Abadi Sang Buddha * Jika umat manusia saat ini akan dijauhkan dari tindakan yang bertentangan dengan standar moral yang diajarkan agama, ajaran Buddha adalah sarana yang paling efektif. Baik untuk diketahui bahwa Ajaran Buddha tidak memilih orang dengan mengikuti mereka untuk mengubah mereka dengan janji-janji surga. Orang-oranglah yang memilih Ajaran Buddha. Untuk memahami dan menilai sifat sejati suatu agama, seseorang harus mempelajari dan menyelidiki ajaran asli pendiri agama itu. Ajaran Buddha adalah agama kemanusiaan, yang penemunya adalah manusia yang tidak mencari pengungkapan atau campur tangan ilahi dalam pembentukan ajaran-Nya. Sumbangsih Sang Buddha terhadap kemajuan sosial dan spiritual umat manusia sangatlah luar biasa bahwasanya pesan-Nya yang menyebar ke seluruh dunia mendapatkan kasih dan perhatian orang-orang dengan rasa hormat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada masa di mana orang bergembira dengan keberhasilan mengendalikan dunia materi, manusia mungkin akan meninjau balik pengendalian fenomena tersulit, yaitu diri sendiri. Dalam tugas inilah, manusia modern akan menemukan ajaran Buddha sebagai jawaban untuk berbagai masalah dan keraguannya. Ajaran Buddha berteguh pada keyakinan diri digabung dengan toleransi terhadap orang lain. Ajaran Buddha menunjuk manusia sendiri sebagai pencipta kehidupannya saat ini dan sebagai perancang tunggal nasibnya sendiri. Demikianlah sifat Ajaran Buddha. Inilah sebabnya mengapa banyak pemikir modern yang bukan umat Buddha menggambarkan Ajaran Buddha sebagai suatu agama kebebasan dan akal budi.

“Misalkan, para bhikkhu, seorang laki-laki mencintai seorang perempuan dengan pikiran terikat padanya oleh keinginan dan nafsu yang kuat. Ia mungkin melihat perempuan itu berdiri bersama laki-laki lain, berbincang-bincang, bergurau, dan tertawa. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Tidakkah dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul pada laki-laki itu ketika ia melihat perempuan itu berdiri bersama laki-laki lain, berbincang-bincang, bergurau, dan tertawa?” “Ya, Yang Mulia. Mengapakah? Karena laki-laki itu mencintai perempuan itu dengan pikiran terikat padanya oleh keinginan dan nafsu yang kuat; itulah sebabnya mengapa dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul padanya ketika ia melihat perempuan itu berdiri bersama laki-laki lain, berbincang-bincang, bergurau, dan tertawa.” “Kemudian, para bhikkhu, laki-laki itu mungkin berpikir: ‘Aku mencintai perempuan ini dengan pikiranku terikat padanya oleh keinginan dan nafsu yang kuat; dengan demikian dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul padaku ketika aku melihatnya berdiri bersama laki-laki lain, berbincang-bincang, bergurau, dan tertawa. Bagaimana jika aku meninggalkan keinginan dan nafsuku pada perempuan itu?’ Ia meninggalkan keinginan dan nafsunya pada perempuan itu. Belakangan ia mungkin melihat perempuan itu berdiri bersama laki-laki lain, berbincang-bincang, bergurau, dan tertawa. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Tidakkah dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul pada laki-laki itu ketika ia melihat perempuan itu berdiri bersama laki-laki lain …?” “Tidak, Yang Mulia. Mengapakah? Karena laki-laki itu tidak lagi mencintai perempuan itu; itulah sebabnya mengapa dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan tidak muncul padanya ketika ia melihat perempuan itu berdiri bersama laki-laki lain … " “Demikian pula, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu tidak diliputi penderitaan tidak meliputi dirinya dengan penderitaan. "Jika aku berusaha dengan penuh tekad, maka sumber penderitaan ini akan meluruh dalam diriku karena usaha penuh tekad itu; dan jika aku mengamati dengan keseimbangan, maka sumber penderitaan ini meluruh dalam diriku selagi aku mengembangkan keseimbangan.’ Ia berusaha dengan penuh tekad sehubungan dengan sumber penderitaan itu yang meluruh dalam dirinya karena usaha penuh tekad itu; dan ia mengembangkan keseimbangan sehubungan dengan sumber penderitaan itu yang meluruh dalam dirinya selagi ia mengembangkan keseimbangan. Ketika ia berusaha dengan penuh tekad, sumber penderitaan ini dan itu meluruh dalam dirinya karena usaha penuh tekad itu; demikianlah penderitaan itu padam dalam dirinya. Ketika ia mengamati dengan keseimbangan, sumber penderitaan ini dan itu meluruh dalam dirinya selagi ia mengembangkan keseimbangan; demikianlah penderitaan itu padam dalam dirinya. Devadaha Sutta

Kisah Sedih di Balik Manisnya Kue Keranjang Kue keranjang atau nian gao terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas perayaan tahun baru Imlek. Siapa mengira bila kue keranjang menyimpan kisah sedih di balik rasa manisnya. Dalam upacara tahun baru Imlek atau sebagai sesaji, kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Semakin ke atas makin mengecil kue yang disusun, yang artinya peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu, banyaknya dan juga tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Sesuai tradisi turun temurun, kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Juru bicara Klenteng Suci Tien Kok Sie, Lian Hong Siang, mengatakan bahwa di balik mewahnya tampilan kue keranjang ternyata tersimpan sejarah yang justru sangat menyedihkan. Awal mula terciptanya kue keranjang terjadi sekitar 5.000 tahun lalu. "Wilayah Tiongkok pada saat tahun baru mulai musim semi, salju yang menumpuk di Gunung Gobi selama berbulan-bulan itu meleleh, memenuhi aliran Sungai Kuning," kata Lian Hong Siang saat berbincang dengan Okezone di klenteng Tien Kok Sie, Solo, Jawa Tengah, Kamis (16/1/2014). Dampak melubernya salju Gunung Goby adalah banjir yang menggenangi hampir sebagian daratan China. Akibatnya, selain menghancurkan tempat tinggal warga, persediaan makanan milik merekapun habis diterjang banjir. Untuk mengantisipasi terjadinya bahaya kelaparan akibat banjir, wargapun memikirkan cara membuat bekal atau bahan makanan untuk waktu yang lama. Kuat, ringkas, awet, rasanya enak, serta tahan lama. "Dan hingga saat ini, sebagai tradisi, sebagai pengingat, bahwa ada cerita sedih di balik manisnya rasa kue keranjang ini setiap pergantian tahun baru, ada kue keranjang. Maknanya kamu akan ingat sejarah nenek moyang, penderitaan nenek moyang pada saat menyambut datangnya musim semi," ungkapnya. Namun, seiring perubahaan zaman, Lian Hong Siang mengaku tak habis pikir kalau akhirnya kue keranjang ini malah untuk pesta-pesta. Padahal, dari sepotong kue keranjang itu saja ada harta benda nenek moyang yang habis tak tersisa seperti orang dirampok akibat bencana. "Itu sejarah kue keranjang bukan sejarah yang menyenangkan seperti rasanya yang manis, tapi menyedihkan. Sayangnya, saat ini kue keranjang justru identik dengan pesta dan simbol kekayaan. Padahal, sejarahnya sangat menyedihkan," pungkasnya. Salam kebajikan

* Mengapa Kita Bernaung Kepada Buddha * Umat Buddha tidak bernaung kepada Buddha dengan kepercayaan bahwa Ia adalah Tuhan atau anak Tuhan. Sang Buddha tidak pernah menyatakan keilahian apa pun. Ada kritik yang mengecam sikap bernaung kepada Sang Buddha semacam ini. Mereka tidak mengetahui arti sebenarnya dari konsep bernaung dan menghormati seorang guru religius besar. Mereka hanya telah belajar tentang berdoa yang merupakan satu-satunya hal yang dilakukan orang dalam nama agama. Ia adalah Yang Tercerahkan, Yang Welas Asih, Yang Bijaksana, dan Yang Ariya yang pernah hidup di dunia ini. Orang bernaung kepada Buddha sebagai seorang guru yang telah menunjukkan jalan pembebasan sejati. Mereka menghormati-Nya untuk menunjukkan rasa terima kasih dan hormat, tetapi mereka tidak meminta pertolongan material. Umat Buddha tidak berdoa pada Sang Buddha dengan berpikir bahwa Ia adalah Tuhan yang akan menghadiahi mereka atau menghukum mereka. Mereka menguncarkan ayat atau Sutta bukan untuk memohon,meminta permohonan duniawi tetapi untuk mengingat nilai-nilai luhur dan sifat-sifat baik-Nya untuk mendapat inspirasi dan bimbingan bagi mereka sendiri dan mengembangkan kepercayaan diri untuk mengikuti Ajaran-Nya sehingga mereka juga bisa menjadi seperti-Nya. Jika seorang umat Buddha mencari pernaungan, hal itu berarti mereka menerima Sang Buddha , Dhamma, dan Sangha sebagai cara untuk memusnahkan semua penyebab ketakutan dan gangguan mental lainnya. Banyak orang, khususnya mereka dengan kepercayaan animisme, mencari perlindungan pada obyek-obyek tertentu disekitar mereka yang mereka percayai dihuni roh-roh. Umat Buddha, bagaimanapun tahu bahwa satu-satunya pernaungan yang dapat mereka peroleh adalah melalui pemahaman sempurna akan sifat mereka sendiri dan menghapuskan naluri dasar mereka. Sang Buddha pernah berkata," Jika seseorang ingin bertemu Aku, ia harus mencari dalam ajaran-Ku dan mempraktikkannya. Mereka yang hidup sesuai Dhamma (cara hidup yang benar) akan dinaungi oleh Dhamma itu sendiri. Seseorang yang mengetahui sifat sejati keberadaan dan kenyataan hidup melalui Dhamma tidak akan takut dan hidup secara harmonis. Beberapa orang berkata bahwa karena Sang Buddha hanyalah seorang manusia, maka tidak ada artinya bernaung kepada-Nya. Tetapi mereka tidak tahu bahwa walaupun Sang Buddha dengan sangat jelas berkata bahwa Ia adalah seorang manusia, Ia bukanlah manusia biasa seperti kita. Ia adalah seorang suci yang luar biasa dan tiada banding yang memiliki Pencerahan Tertinggi dan Welas Asih yang besar terhadap semua makhluk hidup. Ia adalah seorang manusia yang bebas dari semua kelemahan, kekotoran batin, dan bahkan dari emosi manusia biasa, "Tidak sedikitpun kehinaan dalam diri Sang Buddha, tidak seorang pun yang semulia Sang Buddha." Dalam Sang Buddha terwujud semua nilai-nilai luhur kesucian, kebijaksanaan, dan pencerahan. Sri Rama Chandra Bharati, seorang penyair India, memberikan penjelasan penuh arti lainnya tentang bernaung kepada Buddha. "Aku tidak mencari pernaunganmu demi perolehan, Bukan karena takut padamu, bukan juga karena cinta akan ketenaran, Bukan karena kau yang tertinggi di dunia matahari, Bukan demi mendapatkan banyak pengetahuan, Tetapi ditarik oleh kekuatan cinta tanpa batas, Dan kesadaran tiada banding yang mencakup semua, Lautan Samsãra yang luas aman untuk diseberangi, Aku membungkuk dalam, O Tuan, dan menjadi pengikut-Mu."